LangkatTerkini.Com – Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, memiliki banyak sejarah yang tak bisa dilupakan, salah satunya adalah Museum Daerah yang berada di Tanjung Pura. Museum ini menempati gedung bekas Kerajaan Sultan Langkat yang dibangun pada tahun 1905 dan awalnya digunakan sebagai Balai Kerapatan untuk pertemuan dan musyawarah.
Gedung ini gaya Arsiktektur Neo Klasik yang dipengaruhi arsistektur dan perencana kota berkebangsaan Belanda bernama Herman Thomas Karsten yang merupakan penanggung jawab perancangan kota dari pemerintah Kolonial Belanda untuk wilayah Sumatera Timur pada masa itu.
Selanjutnya, Konstruksi bangunan gedung menggunakan semen racikan khusus yang terdiri dari semen merah, batu samping dan agregat semen berupa sari tetes tebu. Adapun bahan batu bata berasal dari pabrik bakaran batu bata Deli Klei di Medan yang beroperasi antara tahun 1881 sampai 1930-an.
Lalu, gedung ini pernah dikenal sebagai gedung hitam karena rusak dan hangus terbakar pada masa penduduk Jepang tahun 1943 kemudian sampai direnovasi pada tahun 1970 dan digunakan sebagai gedung pertamuan. Pada saat renovasi di depan Gedung dibangun Tugu Pancasila sehingga kemudian dikenal sebagai Gedung Bina Pancasila.
Kemudian, pada tahun 1984 Gedung ini pernah digunakan sebagai kantor Camat sementara Kecamatan Tanjung Pura dan pernah digunakan sebagai kantor pembantu Bupati Langkat pada saat Bupati Langkat dijabat oleh Bapak Raden Mulyadi.
Gedung ini difungsikan menjadi Museum Daerah Kabupaten Langkat sejak Tahun 2000 pada saat Bupati Langkat dijabat oleh Bapak H Syamsul Arifin.
Koleksi yang Menarik
Museum ini memiliki koleksi benda-benda peninggalan sejarah dan budaya dari beberapa etnis yang ada di Kabupaten Langkat, seperti Melayu, Karo, dan Jawa. Beberapa koleksi yang dapat ditemukan di museum ini antara lain benda pribadi Tengku Amir Hamzah, peralatan rumah tangga tradisional, alat musik tradisional, busana dan alat permainan tradisional, serta miniatur rumah adat Karo dan Jawa.
Kondisi Museum yang Perlu Ditingkatkan
Meskipun museum ini merupakan salah satu destinasi wisata budaya yang menarik untuk dikunjungi, namun kondisi museum ini perlu ditingkatkan. Bangunan di belakang museum terlihat tidak terawat dan rumputnya panjang. Selain itu, lokasi museum yang tidak terlihat dari luar dan dikelilingi oleh pedagang kaki lima membuat museum ini kurang menarik bagi wisatawan.
“Saya berharap Pemkab Langkat untuk menertibkan Pedagang Kaki Lima dan membersihkan rumput yang panjang di belakang Gedung agar menarik dikunjungi wisawatan,” kata Setia kepada Langkatteriki.com, Sabtu (20/9/2025).
Biaya Masuk yang Terjangkau
Biaya masuk museum ini adalah Rp. 5.000, yang relatif terjangkau bagi wisatawan. Namun, museum ini masih sangat minim dikunjungi wisatawan dari luar Langkat.
Peningkatan Promosi dan Pengelolaan
Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, perlu dilakukan promosi dan pengelolaan yang lebih baik. Dengan demikian, Museum Daerah Kabupaten Langkat dapat menjadi destinasi wisata budaya yang lebih menarik dan dikenal oleh masyarakat luas.














