LangkatTerkini.Com – Perayaan Idul Adha 1447 Hijriah telah berlalu. Namun, di balik pelaksanaan ibadah kurban tahun ini, banyak peternak dan pedagang hewan kurban mengaku mengalami penurunan penjualan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Padahal, berdasarkan data yang dihimpun David Yasin Consulting, jumlah pemotongan sapi kurban pada tahun 2026 justru mengalami peningkatan sebesar 2,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut dinilai mengalami perlambatan signifikan jika dibandingkan dengan pertumbuhan pemotongan sapi pada 2025 yang mencapai belasan persen
Hal tersebut disampaikan oleh Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, di Medan, Selasa (9/6/2026).
“Jika melihat data pemotongan sapi kurban, memang terjadi kenaikan sekitar 2,38 persen. Namun pertumbuhannya jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang meningkat hingga dua digit. Inilah yang menjadi salah satu penyebab munculnya keluhan dari para peternak dan pedagang,” ujarnya.
Benjamin menjelaskan, data tersebut diperoleh dari sampel 513 masjid dan musala yang tersebar di wilayah Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Menurutnya, meskipun jumlah sapi yang dipotong meningkat, ada sejumlah faktor yang menyebabkan pelaku usaha hewan kurban merasa penjualan tahun ini tidak seramai sebelumnya.
Faktor pertama adalah semakin banyak masyarakat yang telah merencanakan ibadah kurban jauh-jauh hari melalui sistem arisan atau tabungan kurban yang dimulai sejak tahun 2025.
“Model arisan kurban ini membuat pembelian sapi sudah direncanakan lebih awal. Peternak juga telah mendapatkan kepastian jumlah sapi yang harus disediakan melalui sistem pemesanan atau inden,” jelasnya.
Menurut Benjamin, sistem tersebut memang memberikan kepastian pasar bagi sebagian peternak. Namun di sisi lain, kondisi itu membuat pergerakan transaksi di pasar hewan kurban menjelang Idul Adha tidak lagi seramai sebelumnya.
Faktor kedua, lanjutnya, adalah banyak peternak yang tetap menyediakan stok sapi tambahan di luar pesanan inden dengan harapan terjadi lonjakan permintaan seperti tahun lalu.
“Di sinilah para peternak dan pedagang merasakan penyerapan yang lebih rendah. Mereka memiliki ekspektasi penjualan meningkat signifikan seperti tahun sebelumnya, namun kenyataannya tidak terjadi. Akibatnya muncul persepsi bahwa pasar hewan kurban sedang lesu,” katanya.
Selain itu, Benjamin menilai kenaikan harga sapi bakalan impor juga turut menekan keuntungan para pedagang. Harga sapi yang terus meningkat berdampak langsung pada kenaikan harga daging sapi di pasaran.
“Kalau tahun lalu harga daging sapi masih berkisar Rp120 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram, saat ini sudah berada di kisaran Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Kenaikan harga tersebut membuat daya beli masyarakat menjadi lebih terbatas,” ungkapnya.
Lebih jauh, Benjamin melihat kondisi ini sebagai sinyal bahwa masyarakat saat ini cenderung menahan pengeluaran atau lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.
“Secara keseluruhan saya melihat belanja masyarakat memang sedang mengalami tekanan. Dugaan melemahnya pembelian sapi dari masyarakat di luar kelompok arisan kurban cukup kuat. Ini menjadi gambaran bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih,” jelasnya.
Meski demikian, Benjamin menegaskan bahwa semangat berkurban masyarakat Indonesia masih tetap tinggi. Menurutnya, Idul Adha selalu menjadi momentum yang mampu mendorong antusiasme umat Islam untuk beribadah kurban, terlepas dari kondisi ekonomi yang sedang dihadapi.
“Walaupun tidak ada ukuran baku mengenai siapa yang wajib atau layak berkurban dari sisi ekonomi, semangat masyarakat untuk melaksanakan ibadah kurban tetap besar. Hanya saja, pola pembelian dan kemampuan belanja masyarakat saat ini mengalami perubahan,” pungkasnya.










