LangkatTerkini.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang memicu antrean panjang di sejumlah SPBU mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi barang, termasuk komoditas pangan. Di saat yang sama, harga daging ayam dan telur ayam juga terus menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa pekan terakhir.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa kenaikan harga daging ayam dan telur ayam saat ini lebih dominan dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan (demand), terutama setelah kembali beroperasinya dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) usai libur sekolah.
“Selama dapur MBG tutup saat liburan sekolah, harga daging ayam sempat turun hingga sekitar 20 persen. Namun setelah aktivitas kembali normal, permintaan meningkat dan harga daging ayam berbalik naik sekitar 21,5 persen dari posisi terendahnya. Saat ini harga sudah kembali ke kisaran normal,” ujarnya di Medan, Kamis (16/7/2026).
Berdasarkan hasil pemantauan di pasar tradisional Tanjung Morawa, Deli Serdang, harga daging ayam sempat berada di level Rp35 ribu per kilogram pada pertengahan Juni. Kemudian turun hingga Rp28 ribu per kilogram pada 28–30 Juni saat permintaan melemah. Kini harga kembali naik menjadi sekitar Rp34 ribu per kilogram.
Sementara itu, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam di Gunungsitoli bahkan telah mencapai Rp51.500 per kilogram.
Kenaikan juga terjadi pada komoditas telur ayam. Data PIHPS Kota Medan menunjukkan harga telur ayam di Pasar Petisah naik dari Rp24.600 menjadi Rp27.600 per kilogram dalam sepekan terakhir. Kenaikan tersebut setara dengan kenaikan harga sekitar Rp200 per butir.
Menurut Gunawan, telur ayam dan daging ayam merupakan dua komoditas yang sangat sensitif terhadap perubahan permintaan karena pasokannya relatif stabil setiap hari.
“Berbeda dengan cabai atau bawang yang produksinya sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan musim, harga ayam dan telur lebih mudah mencerminkan perubahan permintaan pasar,” jelasnya.
Meski demikian, Gunawan menilai dampak kelangkaan BBM terhadap kenaikan harga kedua komoditas tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut.
“Sejauh ini saya belum dapat menyimpulkan bahwa kenaikan harga telur dan daging ayam disebabkan oleh memburuknya antrean BBM. Memang secara teori antrean panjang dan kemungkinan penggunaan BBM non-subsidi dapat meningkatkan biaya distribusi maupun biaya operasional pelaku usaha. Namun yang paling nyata terlihat saat ini adalah peningkatan permintaan di lapangan,” katanya.
Ia menambahkan, kelangkaan BBM dipastikan memengaruhi pola distribusi komoditas pangan. Jika kondisi tersebut berlangsung lebih lama, bukan tidak mungkin biaya distribusi akan meningkat dan pada akhirnya ikut memberikan tekanan terhadap harga di tingkat konsumen.
“Kelangkaan serta antrean BBM berpotensi mengganggu distribusi komoditas. Dampaknya terhadap harga masih perlu ditelusuri lebih jauh, namun tidak menutup kemungkinan kondisi ini turut berkontribusi terhadap kenaikan harga daging ayam dan telur ayam,” pungkasnya.












