LANGKAT

Perjuangan dan Dedikasi H Muhammad Nur Abu Bakar: Dari Pedagang Kecil hingga Mendirikan Jaringan Rumah Sakit

×

Perjuangan dan Dedikasi H Muhammad Nur Abu Bakar: Dari Pedagang Kecil hingga Mendirikan Jaringan Rumah Sakit

Sebarkan artikel ini
Pendiri Rumah Sakit Umum Bidadari Muhammad Nur
Pendiri Rumah Sakit Umum Bidadari Muhammad Nur (Foto: Net)

LangkatTerkini.Com – Sosok H. Muhammad Nur Abu Bakar, pendiri RS Bidadari Group dan Yayasan Nuur Ar Radhiyyah, dikenal sebagai seorang pengusaha, filantropis, dan tokoh pendidikan yang mengawali perjalanan hidupnya dari bawah hingga berhasil membangun berbagai lembaga yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Biografi singkat almarhum dikutip LangkatTerkini.Com dari buku Yasin, Tahlil, Takhtim, dan Doa yang diwakafkan oleh RSU Bidadari Group dan Yayasan Nuur Ar Radhiyyah kepada para jamaah yang menghadiri tahlilan di kediaman almarhum di Jalan Sisingamangaraja Nomor 80, Kota Binjai, Sumatera Utara, Minggu malam (7/6/2026).

Masa Kecil Penuh Perjuangan

H. Muhammad Nur Abu Bakar bin Abu Bakar Budiman lahir pada 12 Juni 1954 di Gampong Pantai Tengah, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh. Ia merupakan putra dari pasangan Abu Bakar dan Fatimah.

Ayahnya, Abu Bakar, merupakan warga asli Sigli yang bekerja sebagai sopir truk trailer, sementara sang ibu berasal dari Kembang Tanjung, Sigli, dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga.

Cobaan hidup telah menghampirinya sejak usia dini. Ketika berusia dua tahun, ibundanya meninggal dunia. Sejak saat itu, ia diasuh dan dibesarkan oleh Azimah, adik kandung ibundanya, yang memberikan kasih sayang dan pendidikan hingga beliau tumbuh dewasa.

Memulai Usaha Sejak Usia 10 Tahun

Semangat bekerja dan berwirausaha telah tertanam dalam diri H. Muhammad Nur Abu Bakar sejak kecil. Pada usia 10 tahun, ia sudah membantu perekonomian keluarga dengan berjualan minyak eceran di pinggir jalan.

Dua tahun kemudian, tepatnya saat berusia 12 tahun, ia mendapat kesempatan dari Haji Muhammad Husein Sebab untuk menggunakan sebuah kios secara pinjam pakai. Kesempatan tersebut menjadi titik awal perjalanan bisnisnya secara mandiri.

Berkat kerja keras dan kegigihannya, pada usia 16 tahun ia mulai merintis usaha di bidang kontraktor dan perlahan membangun reputasi sebagai pengusaha muda yang tangguh.

Menikah dan Membangun Kerajaan Usaha

Di bawah bimbingan Haji Muhammad Husein Sebab, H. Muhammad Nur Abu Bakar menikah dengan Hajah Radhiah pada 16 Agustus 1976.

Setelah menikah, pasangan ini memulai perjalanan usaha bersama. Pada tahun 1977, ia mendirikan perusahaan kontraktor PT Adekarya, yang menjadi salah satu fondasi perkembangan bisnisnya.

Memasuki dekade 1980-an, ia sempat mengembangkan usaha rumah makan. Meskipun usaha tersebut tidak bertahan lama, semangatnya untuk terus berinovasi tidak pernah surut.

Pada tahun 1985, ia membuka Toko Buku Pustaka Peradaban di Sigli sebagai bentuk kepeduliannya terhadap dunia pendidikan dan literasi masyarakat.

Merambah Bisnis Internasional

Memasuki tahun 1990, H. Muhammad Nur Abu Bakar mulai mengembangkan usaha ke tingkat internasional melalui bisnis ekspor sayur-mayur hasil pertanian Berastagi, Sumatera Utara, ke Singapura dan Penang, Malaysia.

Langkah tersebut menunjukkan visi bisnisnya yang jauh ke depan serta kemampuannya membaca peluang pasar di tengah perkembangan ekonomi kawasan Asia Tenggara.

Membangun RS Bidadari Group

Perjalanan bisnisnya terus berkembang. Pada tahun 2000, ia mendirikan industri air minum dalam kemasan dengan merek Tari di Kota Binjai. Dalam usaha tersebut, ia mulai melibatkan putra sulungnya, H. Nurdiansyah, sebagai bagian dari regenerasi usaha keluarga.

Kemudian pada tahun 2006, bersama putrinya Hj. Nurdiaita, ia membangun rumah sakit pertama yang diberi nama RS Bidadari Binjai.

Rumah sakit tersebut menjadi awal lahirnya RS Bidadari Group, yang hingga tahun 2026 telah berkembang menjadi jaringan rumah sakit yang melayani masyarakat di berbagai daerah, antara lain Kota Binjai, Kabupaten Batu Bara, Kecamatan Wampu dan Gebang Kabupaten Langkat serta Provinsi Aceh.

Keberadaan rumah sakit tersebut menjadi bukti nyata komitmen almarhum dalam meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Dedikasi untuk Pendidikan Islam

Tidak hanya fokus pada bidang kesehatan dan bisnis, H. Muhammad Nur Abu Bakar juga memiliki perhatian besar terhadap pendidikan Islam.

Bersama keluarga, ia mendirikan Pesantren Nuur Ar Radhiyyah, yang menjadi wadah pendidikan dan pembinaan generasi muda Islam.

Pengembangan pesantren tersebut melibatkan seluruh putra-putrinya, yakni H. Nurdiansyah, Hj. Nurdiaita, H. Firmansyah, dr. Ade Putri Radiana.

Melalui Yayasan Nuur Ar Radhiyyah, almarhum berharap dapat melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi umat.

Warisan Pengabdian yang Terus Hidup

Kepergian H. Muhammad Nur Abu Bakar meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat. Namun, jejak pengabdiannya melalui bidang kesehatan, pendidikan, sosial, dan ekonomi akan terus dikenang.

Dari seorang anak yang berjualan minyak eceran di pinggir jalan hingga menjadi pendiri jaringan rumah sakit dan lembaga pendidikan Islam, perjalanan hidup H. Muhammad Nur Abu Bakar menjadi inspirasi bahwa kerja keras, ketekunan, dan keikhlasan dapat melahirkan manfaat besar bagi banyak orang.

Nama H. Muhammad Nur Abu Bakar akan selalu dikenang sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk pelayanan, pendidikan, dan kemaslahatan umat.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *