LangkatTerkini.Com – Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika para nelayan di pesisir timur Kabupaten Langkat mulai bersiap meninggalkan daratan. Sebelum bertolak ke laut, mereka menyiapkan bekal sederhana berupa makanan dan minuman yang dimasukkan ke dalam ember.
Tak lupa, mereka membawa solar sebagai bahan bakar sampan bermotor yang akan mengantar mereka mengarungi perairan Selat Malaka demi mencari nafkah untuk keluarga.
Sejak dini hari, para nelayan telah berangkat mencari berbagai hasil laut, mulai dari ikan, udang, kerang hingga rajungan. Namun, hasil tangkapan yang mereka bawa pulang kini tidak lagi sebanyak beberapa tahun lalu.
Salah seorang nelayan rajungan, Sobri, mengaku dalam sekali melaut dirinya hanya mampu memperoleh sekitar tujuh kilogram rajungan.
“Alhamdulillah masih ada hasil yang bisa dibawa pulang, meski tidak banyak. Sebagian kami konsumsi bersama keluarga, sisanya dijual kepada pengepul,” ujarnya.
Sobri merupakan satu dari ratusan nelayan rajungan yang menggantungkan hidup di kawasan pesisir timur Kabupaten Langkat. Menurutnya, perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi serta menurunnya kondisi ekosistem laut membuat hasil tangkapan terus berkurang.
Ia mengenang, sekitar 10 tahun lalu, sekali melaut dirinya bisa membawa pulang hasil yang bernilai hingga sekitar Rp1 juta. Kini, pendapatan sebesar itu semakin sulit diperoleh.
“Cuaca sekarang tidak menentu. Pagi masih cerah, beberapa jam kemudian hujan deras disertai gelombang tinggi. Kondisi seperti itu membuat kami waswas saat berada di tengah laut,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Abdul Rani (50), nelayan asal Desa Kwala Langkat, Kecamatan Tanjung Pura. Selama lebih dari 36 tahun menggantungkan hidup sebagai nelayan, ia merasakan penurunan hasil tangkapan yang cukup drastis.
Dalam sehari melaut, Rani mengaku terkadang hanya memperoleh sekitar dua kilogram kepiting dan rajungan. Padahal, beberapa tahun silam hasil tangkapannya jauh lebih banyak.
Seluruh hasil tangkapannya dijual kepada pengepul. Kepiting bintang dihargai sekitar Rp15 ribu per kilogram, sedangkan kepiting renjong berkisar Rp20 ribu per kilogram. Dengan harga tersebut, penghasilannya dinilai belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan keluarga.
Akibat pendapatan yang tidak menentu, Rani mengaku kerap meminjam uang kepada pengepul untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Utang tersebut baru dapat dilunasi ketika hasil tangkapannya meningkat. Sebaliknya, jika hasil melaut sedikit, pembayaran terpaksa ditunda hingga kondisi membaik.

Selain cuaca ekstrem, para nelayan juga menyoroti maraknya penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan, seperti pukat trawl atau yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan hella.
Menurut mereka, penggunaan alat tangkap tersebut telah merusak dasar laut, menghancurkan terumbu karang, serta mengganggu habitat berkembang biaknya berbagai biota laut, termasuk rajungan. Dampaknya, populasi hasil laut yang memiliki nilai ekonomi terus menurun sehingga semakin sulit ditemukan.
Para nelayan berharap pemerintah memperketat pengawasan terhadap penggunaan alat tangkap yang dilarang serta memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan nelayan tradisional. Mereka meyakini penindakan terhadap praktik penangkapan ikan yang merusak lingkungan menjadi salah satu langkah penting untuk memulihkan sumber daya laut sehingga hasil tangkapan nelayan kecil dapat kembali meningkat.














