EKBIS

Harga Cabai Merah Anjlok Usai Lebaran, Petani Tertekan Akibat Panen Serentak dan Lonjakan Pasokan

×

Harga Cabai Merah Anjlok Usai Lebaran, Petani Tertekan Akibat Panen Serentak dan Lonjakan Pasokan

Sebarkan artikel ini
Harga Cabai
Cabai di Pasar

LangkatTerkini.Com – Berdasarkan pemantauan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah mengalami penurunan tajam setelah libur panjang Idul Fitri. Di Kota Medan, harga cabai merah sempat berada di kisaran Rp19.800 per kilogram dan hingga kini masih bertahan di sekitar Rp21.000 per kilogram.

Hal tersebut disampaikan oleh pengamat ekonomi, Gunawan Benjamin, di Medan, Selasa (31/3/2026).

“Dari hasil pemantauan langsung di lapangan, saya menemukan harga cabai merah bahkan sempat dijual Rp15.000 per kilogram. Sementara di tingkat petani, khususnya di wilayah Deli Serdang, harga berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp10.000 per kilogram,” ujarnya.

Gunawan menjelaskan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan anjloknya harga cabai merah. Pertama, bencana banjir pada November 2025 memaksa petani melakukan tanam ulang. Akibatnya, pola tanam mengalami kemunduran sekitar satu bulan.

Kondisi tersebut membuat panen yang seharusnya terjadi pada awal Ramadan bergeser ke bulan Maret, sehingga terjadi penumpukan pasokan di pasar.

Kedua, adanya tambahan pasokan dari wilayah Aceh. Meskipun sebelumnya terdampak banjir, distribusi cabai dari daerah tersebut kembali normal dan bahkan meningkat pada Februari.

“Di luar dugaan, pasokan cabai merah dari Aceh masih berlanjut dalam jumlah signifikan,” jelasnya.

Ketiga, pola tanam petani yang belum terorganisir dengan baik. Banyak petani menanam cabai dengan harapan mendapatkan keuntungan saat permintaan meningkat pada momen hari besar keagamaan seperti Idul Fitri.

Menurutnya, ekspektasi serupa di kalangan petani mendorong terjadinya panen secara bersamaan. Hal ini justru menyebabkan pasokan melimpah dan harga jatuh drastis.

“Tanpa disadari, pola ini memicu panen serentak yang berujung pada kelebihan pasokan dan penurunan harga yang tajam,” tambahnya.

Ia menegaskan pentingnya konsistensi dalam pola tanam. Namun, konsistensi tersebut kerap terganggu oleh berbagai faktor seperti bencana alam, kenaikan harga sarana produksi pertanian (saprotan), hingga fluktuasi harga yang membuat petani kesulitan mempertahankan usaha taninya.

“Di sinilah pentingnya menjaga konsistensi, meski dalam praktiknya petani sering menghadapi berbagai tantangan,” tutup Gunawan.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *