LangkatTerkini.Com – Desa Perlis di Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, menyimpan sejarah panjang sebagai salah satu kawasan pesisir tertua di Kabupaten Langkat. Berawal dari sebuah kampung nelayan di tepian Sungai Babalan pada awal abad ke-19, desa ini berkembang menjadi permukiman multietnis yang hingga kini dikenal sebagai salah satu sentra perikanan di pesisir timur Sumatera Utara.
Sejarah Desa Perlis diungkap dalam penelitian berjudul “Masyarakat Sungai Babalan: Sejarah Sosial Desa Perlis, Pangkalan Brandan (1940–2004)” yang ditulis oleh Septiansyah Tanjung dan Rosmaida Sinaga, serta diterbitkan dalam JASMERAH: Journal of Education and Historical Studies, Volume 1 Nomor 2, Universitas Negeri Medan pada 2019.
Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa cikal bakal Desa Perlis berasal dari sebuah permukiman nelayan di tepi Sungai Babalan yang telah ada sebelum tahun 1823. Keberadaan kampung tersebut tercatat dalam buku Mission to the East Coast of Sumatra karya John Anderson, seorang pegawai East India Company. Dalam catatannya, Anderson menyebut adanya sebuah kampung nelayan yang dihuni sekitar 50 jiwa di kawasan Sungai Babalan. Kampung itu diyakini menjadi embrio Desa Perlis yang kala itu dikenal sebagai Kampung Tanjung Balai.
Saat ini, Desa Perlis berkembang menjadi salah satu desa pesisir dengan jumlah penduduk sekitar 6.000 jiwa. Sebagai desa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Desa Perlis memiliki satu masjid dan tujuh musala yang menjadi pusat kegiatan ibadah sekaligus aktivitas sosial keagamaan masyarakat.
Pada masa awal berdirinya, masyarakat Kampung Tanjung Balai didominasi oleh suku Melayu yang menggantungkan hidup sebagai nelayan dan pengrajin atap nipah. Hasil tangkapan ikan serta kerajinan atap nipah diperdagangkan ke berbagai pelabuhan di pesisir timur Sumatera dan menjadi penopang utama perekonomian masyarakat kala itu.
Perkembangan kampung semakin pesat setelah kedatangan seorang ulama sekaligus pedagang dari Negeri Perlis, Semenanjung Malaya, yakni Haji Muhammad Thaif atau Haji Mat Thaif, yang menetap bersama keluarganya di kawasan tersebut. Kehadirannya menjadi awal mula penggunaan nama Kampung Perlis, yang kemudian berkembang menjadi Desa Perlis seperti yang dikenal hingga sekarang.
Dalam penelitian juga dijelaskan bahwa Kampung Perlis dahulu berada di bawah pemerintahan Kesultanan Langkat. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Aziz, wilayah tersebut dipimpin oleh seorang penghulu sebagai wakil kesultanan. Setelah Indonesia merdeka, Kampung Perlis resmi ditetapkan sebagai desa administratif dengan nama Desa Perlis.

Memasuki pertengahan abad ke-20, Desa Perlis mengalami perkembangan pesat seiring masuknya berbagai kelompok etnis. Sekitar tahun 1940, masyarakat Tionghoa mulai menetap dan mengembangkan usaha peternakan. Pada dekade 1950–1960, masyarakat Jawa datang membuka lahan persawahan, disusul masyarakat Aceh yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan.
Keberagaman tersebut menjadikan Desa Perlis sebagai kawasan multietnis yang dihuni masyarakat Melayu, Jawa, Aceh, Banjar, Mandailing, Minangkabau hingga Tionghoa. Meski berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, kehidupan masyarakat berlangsung harmonis dan saling mendukung dalam aktivitas ekonomi maupun sosial kemasyarakatan.
Selain dikenal sebagai desa nelayan, Desa Perlis juga pernah menjadi salah satu sentra produksi padi di wilayah pesisir Langkat. Namun sejak era 1990-an hingga awal 2000-an, sebagian besar lahan persawahan beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit. Perubahan tersebut dipicu oleh seringnya sawah terendam air asin serta serangan hama yang menyebabkan gagal panen.
Perubahan mata pencaharian turut memengaruhi kehidupan budaya masyarakat. Tradisi Jamu Laut dan Kenduri Sawah, yang dahulu menjadi bagian penting kehidupan masyarakat, perlahan mulai ditinggalkan. Meski demikian, sejumlah tradisi adat Melayu seperti prosesi tepung tawar dalam upacara pernikahan masih tetap dilestarikan sebagai warisan budaya yang terus dijaga hingga saat ini.
Sejarah Desa Perlis menunjukkan bahwa Sungai Babalan bukan sekadar bentang alam, tetapi menjadi pusat lahirnya peradaban masyarakat pesisir di Kabupaten Langkat. Warisan sejarah tersebut masih terlihat melalui keberagaman masyarakat, budaya yang tetap lestari, serta identitas Desa Perlis sebagai salah satu desa pesisir bersejarah di Sumatera Utara.














