LangkatTerkini.Com – Harga CPO (crude palm oil) pada bulan Juni dalam tren naik seiring dengan meningkatnya ketegangan politik di Timur Tengah. Dan sempat turun namun berbalik naik lagi di kisaran 4.062 ringgit per ton di akhir pekan kemarin.
“Pelaku pasar CPO tengah mengambil posisi wait and see jelang berakhirnya masa waktu negosiasi tarif pada tanggal 9 Juli mendatang,” kata Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di Medan, Senin (7/7/2025).
Vietnam sejauh ini, kata Benjamin, masih menjadi negara satu-satunya di Asean yang telah melakukan kesepakatan tarif dengan AS. Dimana kesepakatan tarif tersebut dinilai merugikan China.
“Dan menjadi tolak ukur bagi negara Asean atau negara lainnya untuk melakukan kesepakatan atau negosiasi tarif dengan AS. Dimana tentunya banyak negara seperti Indonesia yang mengharapkan tarif yang diberlakukan AS bisa lebih rendah dari tarif yang diberlakukan ke Vietnam,” kata Benjamin.
Lebih jauh Benjamin menjelaskan, karena besaran tarif akan menentukan daya saing produk dari masing-masing negara. Namun, bisa jadi kebijakan tarif ini menjadi pengecualian bagi produk minyak kelapa sawit. Berikut beberapa alasan mengapa sawit berikut produk turunannya bisa bertahan di tengah kegagalan negosiasi tarif.
Lebih lancet Benjamin menerangkan pertama, kebijakan tarif dari AS yang justru disisi lain memicu pemberlakuan tarif dari negara serupa seperti yang dilakukan China. Hal ini bisa membuat produk subitusi yang menjadi pesaing minyak kelapa sawit seperti kedelai alami penurunan permintaan. Ada peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor CPO ke sejumlah negara tujuan utama seperti China dan India.
Kedua, ada capaian kesepakatan dangan antara Indonesia dengan Uni Eropa. Dimana Indonesia dan Uni Eropa dikabarkan telah mencapai hasil perundingan comprehensive economic partnership agreement (CEPA). Kesepakatan ini diharapkan bisa menjadi kabar baik bagi Indonesia untuk menjadikan Eropa sebagai mitra strategis ekspor produk turunan minyak kelapa sawit.
Ketiga, serapan minyak sawit untuk bio diesel yang meningkat berpeluang menjaga harga CPO. Tren konsumsi bio diesel domestik menjadi tumpuan dari kemungkinan melemahnya serapan CPO berikut produk turunannya ke negara lain. Walaupun serapan biodiesel negara lain tetap masih bisa diandalkan.
Keempat, produk turunan minyak kelapa sawit masih menjadi komoditas unggulan yang mampu bersaing dengan produk subtitusi dari negara lain. Sawit masih banyak membuat konsumen di banyak negara tetap membutuhkan sawit. Dan jika kita berhasil meyakinkan AS terkait dengan kesepakatan tarif, atau kita mampu bersepakat membuat tarif kembali seperti semula, maka ekspor sawit berikut produk turunannya diproyeksikan masih mampu tumbuh 5% sampai 10% di tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.














