LangkatTerkini.Com – Badan urusan logistik (Bulog) di Sumut belakangan ini gencar distribusikan beras SPHP. Menurut kabar yang saya terima angkanya sudah mencapai 9.100 ton di bulan September.
Hal itu dikatakan Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin di Medan, Rabu (17/9/2025).
“Intervensi yang dilakukan Bulog tersebut sejauh ini efektif dalam meredam atau bahkan menekan harga. Meskipun dari pantauan di pasar penurunan harga beras belum merata, bahkan justru ada yang mengalami kenaikan harga,” kata Benjamin.
Mengacu kepada PIHPS, jelasnya, harga salah satu jenis beras medium di kota Medan alami penurunan rata-rata dari 14.500 dan 14.800 (10/09), menjadi 14.400 dan 14.650 per Kg pada hari ini. Termasuk juga Gunung Sitoli, harga beras alami penurunan rata-rata dari 14.900 dan 15.750 (10/09) menjadi 14.800 dan 15.150 per hari.
“Kondisi berbalik justru diperlihatkan (PIHPS) oleh kota sibolga, yang rata-rata harga berasnya justru alami kenaikan dari 15.050 menjadi 15.150 per Kg. Meskipun untuk jenis beras medium lainnya di kota sibolga ditransaksikan turun dari 14.850 (10/09) menjadi 14.800 per Kg saat ini,” paparnya.
Apabila, tambahnya, mengacu kepada rata-rata harga beras medium di wilayah Sumut secara keseluruhan. Harga beras medium turun dari 14.800 dan 14.500 (10/09) per Kg, menjadi 14.650 dan 14.400 per Kg. Kalau dilihat dari sisi persediaan beras memang alami peningkatan.
“Dan puncak dari pasokan beras tertinggi di Sumut terjadi di bulan September ini. Perkiraan saya mencapai 272 ribu hingga 299 ribu ton beras di bulan September ini,” kata Benjamin.
Penurunan pada harga beras ini, kata Benjamin, menjadi kabar baik bagi konsumen. Namun yang saya kuatirkan adalah penurunan beras ini dibarengi dengan intervensi Bulog. Yang artinya jika Bulog tidak terlibat, maka sebenarnya panen saat ini bisa lebih menjelaskan bagaimana harga beras yang terbentuk di pasar tanpa intervensi Bulog.
Benjamin mengkuatirkan bahwa harga beras bisa naik lebih tinggi setelah musim panen besar tahun ini terlewati.
“Terkait dengan cadangan beras Bulog, saya justru mengkuatirkan jika cadangan beras Bulog saat ini lebih dikarenakan serapan gabah ke Bulog ke petani, maka pada dasarnya supply beras atau pun gabah di lapangan tidak mengalami perubahan yang signifikan. Berbeda halnya jika cadangan beras Bulog juga disupply dari beras impor,” ujarnya.
Dari hasil perhitungan Benjamin, harga beras yang turun saat ini juga tidak mampu turun hingga 2.000 per Kg dibandingkan dengan posisi tertingginya di bulan Juli. Sementara itu musim panen sebentar lagi akan terlewati. Jadi bisa saja harga beras kembali naik menjelang sisa bulan terkahir di kuartal keempat nanti.














