LangkatTerkini.Com – Perjuangan seorang bidan desa yang harus menerjang jalur laut hingga mengalami luka demi memberikan pertolongan kepada pasien di Desa Pangkalan Siata, Kecamatan Pangkalan Susu, menuai perhatian berbagai kalangan. Salah satunya datang dari organisasi Anak Muda Pangkalan Susu (AMPAS), yang menilai peristiwa tersebut menjadi cerminan masih terbatasnya akses pelayanan dasar di wilayah pesisir Kabupaten Langkat.
Ketua AMPAS, Raya Samosir, menilai kejadian tersebut tidak semestinya dipandang sebagai musibah semata, melainkan menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi pemerataan pembangunan, khususnya di daerah terpencil.
“Peristiwa ini bukan sekadar musibah. Ini menjadi pengingat bahwa masih ada masyarakat yang belum sepenuhnya merasakan kehadiran negara. Sangat memprihatinkan jika pada tahun 2026 tenaga kesehatan masih harus mempertaruhkan keselamatannya karena keterbatasan akses menuju desa,” ujar Raya kepada wartawan, Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, kondisi geografis yang sulit bukan alasan untuk mengabaikan pembangunan infrastruktur maupun pelayanan publik. Justru daerah dengan tingkat kesulitan akses tinggi seharusnya menjadi prioritas perhatian pemerintah.
“Jika Desa Pangkalan Siata memang sulit dijangkau, maka di situlah negara harus hadir lebih kuat. Masyarakat tidak membutuhkan alasan mengapa pembangunan belum dilakukan, tetapi membutuhkan solusi yang nyata,” katanya.

AMPAS mendesak Pemerintah Kabupaten Langkat agar segera mempercepat pembangunan akses jalan menuju Desa Pangkalan Siata. Selama ini, masyarakat masih bergantung pada jalur laut yang dinilai memiliki risiko tinggi, terutama ketika terjadi keadaan darurat atau cuaca buruk.
Selain pembangunan infrastruktur jalan, Raya juga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan pemerintah pusat memberikan perhatian lebih terhadap desa-desa pesisir melalui peningkatan fasilitas kesehatan dan pelayanan medis.
Ia menilai Desa Pangkalan Siata sudah seharusnya memiliki fasilitas kesehatan yang lebih memadai, mulai dari Puskesmas Pembantu (Pustu) yang representatif, ketersediaan tenaga medis, obat-obatan, hingga sarana penunjang agar masyarakat tidak selalu harus dirujuk ke daerah lain untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar.
“Anggaran pembangunan seharusnya lebih banyak diarahkan untuk membuka akses jalan dan memperkuat layanan kesehatan. Hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan telah dijamin oleh konstitusi dan harus dapat dirasakan tanpa memandang letak geografis,” tegasnya.
AMPAS juga mendorong seluruh instansi yang berwenang melakukan evaluasi terhadap sistem penanganan keadaan darurat, termasuk mekanisme respons ketika masyarakat membutuhkan bantuan medis.
“Kami tidak sedang mencari pihak yang harus disalahkan. Yang kami harapkan adalah evaluasi dan perbaikan agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Jangan sampai harus menunggu jatuhnya korban jiwa baru kemudian semua bergerak,” ucap Raya.
Di sisi lain, AMPAS memberikan apresiasi kepada Bidan Vera Leli Septiana Manullang yang dinilai telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalankan tugas kemanusiaan.
“Pengabdian Bidan Vera patut diapresiasi karena telah mengutamakan keselamatan pasien di tengah berbagai keterbatasan. Namun, semangat pengabdian tenaga kesehatan tidak boleh dijadikan alasan untuk menutupi persoalan mendasar yang masih dihadapi masyarakat. Mereka seharusnya dapat bekerja dengan aman, didukung infrastruktur dan fasilitas yang memadai,” katanya.
AMPAS berharap peristiwa tersebut menjadi momentum bagi pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat untuk mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah pesisir, khususnya dalam penyediaan akses transportasi, layanan kesehatan, dan sistem tanggap darurat, sehingga masyarakat di daerah terpencil memperoleh pelayanan yang setara dengan wilayah lainnya.

Sebelumnya diberitakan, dedikasi tenaga kesehatan di daerah terpencil kembali menjadi sorotan. Seorang bidan desa di Desa Pangkalan Siata, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara harus mempertaruhkan keselamatannya saat mengevakuasi pasien rujukan yang terjebak di tengah perairan akibat cuaca buruk dan air laut surut, Kamis (30/7/2026).
Bidan tersebut, Vera Leli Septiana Manullang, merupakan tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Pangkalan Susu. Kepada LangkatTerkini, Vera menceritakan bahwa sekitar pukul 17.00 WIB dirinya merujuk seorang pasien bernama Romaida Boru Saragih ke Rumah Sakit Mahkota Bidadari di Kecamatan Gebang.
Pasien saat itu mengalami sesak napas, kadar gula darah yang tinggi, kondisi tubuh yang lemah, serta telah terpasang infus sehingga membutuhkan penanganan medis lanjutan sesegera mungkin.
Minimnya akses transportasi daratan menuju Desa Pangkalan Siata membuat proses rujukan hanya dapat dilakukan melalui jalur laut menggunakan perahu.
Namun perjalanan tidak berlangsung mulus. Di tengah pelayaran, cuaca tiba-tiba memburuk. Ombak menghantam perahu hingga terseret ke tepian perairan dan akhirnya kandas karena air laut surut.
Menghadapi situasi darurat tersebut, Vera bersama keluarga pasien dan pengemudi perahu segera menghubungi sejumlah pihak untuk meminta pertolongan.
Sekitar 30 menit menunggu, bantuan yang diharapkan belum juga datang. Sementara itu hujan deras, angin kencang, dan petir terus mengguyur lokasi sehingga kondisi menjadi semakin berbahaya.
Dalam situasi yang serba sulit, Vera harus mengambil keputusan cepat. Bertahan di atas perahu dinilai berisiko terhadap keselamatan pasien. Bersama keluarga pasien dan pengemudi perahu, ia akhirnya memutuskan turun ke perairan dan mengangkat pasien yang masih terpasang infus untuk dibawa berjalan menuju daratan.
Langkah demi langkah mereka tempuh dengan penuh kehati-hatian. Selain harus menjaga kondisi pasien tetap stabil, mereka juga berjalan di dasar perairan yang tidak diketahui terdapat benda tajam maupun biota laut.
Sekitar pukul 19.00 WIB, rombongan akhirnya berhasil mencapai daratan. Meski demikian, perjuangan belum usai karena bantuan evakuasi masih belum tiba.

Dalam kondisi tubuh basah kuyup dan kelelahan, Vera kembali menghubungi Kepala Puskesmas Pangkalan Susu untuk melaporkan kondisi darurat yang mereka hadapi.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala Puskesmas segera mencari perahu sewaan dari Pelabuhan Pangkalan Susu untuk menjemput rombongan yang terdampar.
Setelah berhasil dievakuasi ke Pelabuhan Pangkalan Susu, pasien langsung dipindahkan ke ambulans Rumah Sakit Mahkota Bidadari dan dibawa ke rumah sakit tersebut untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Di balik keberhasilan penyelamatan itu, Vera harus menanggung luka di kedua kakinya. Luka tersebut diduga akibat terkena benda tajam atau biota laut saat berjalan cukup jauh di dasar perairan sambil membantu mengangkat pasien.
Kini, Vera turut menjalani perawatan di Rumah Sakit Mahkota Bidadari bersama pasien yang berhasil dirujuknya.
Peristiwa ini menjadi gambaran nyata beratnya perjuangan tenaga kesehatan di wilayah terpencil. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan akses transportasi, mereka tetap mengutamakan keselamatan pasien, bahkan dengan mempertaruhkan kondisi diri sendiri demi memastikan layanan kesehatan tetap dapat menjangkau masyarakat.














