EKBIS

Dapur MBG Libur, Harga Pangan Turun? Pengamat Ungkap Penyebab Sebenarnya

×

Dapur MBG Libur, Harga Pangan Turun? Pengamat Ungkap Penyebab Sebenarnya

Sebarkan artikel ini
Puncak Belanja dan Kenaikan Harga Ada di Penghujung Tahun
Gunawan Benjamin (Foto: Istimewa)

LangkatTerkini.Com – Penurunan harga sejumlah komoditas pangan selama masa libur sekolah tidak sepenuhnya disebabkan oleh berhentinya sementara operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di balik tren tersebut, terdapat faktor lain yang perlu menjadi perhatian pemerintah, termasuk kondisi daya beli masyarakat.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan komoditas yang selama ini banyak digunakan dalam menu MBG, seperti telur ayam, daging ayam, buncis, wortel, susu, buah-buahan, kacang-kacangan, dan beras, memang memiliki pengaruh terhadap permintaan pasar. Namun, tidak semua penurunan harga dapat dikaitkan dengan liburnya dapur MBG.

“Untuk komoditas sayuran, kondisinya justru beragam. Harga wortel pada Juni tercatat naik sekitar 37 persen dibandingkan Mei, sedangkan harga buncis relatif stabil di kisaran Rp13 ribu per kilogram. Sementara itu, harga kacang panjang turun sekitar 36 persen, tomat turun 16 persen, dan sawi hijau turun hingga 42 persen,” ujar Benjamin di Medan, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, harga sayur-sayuran memang cenderung berfluktuasi karena mudah disubstitusi dengan jenis sayuran lain dalam penyusunan menu. Berbeda dengan komoditas seperti daging ayam dan telur ayam yang permintaannya lebih konsisten selama dapur MBG beroperasi.

Benjamin menjelaskan, harga daging ayam justru menunjukkan tren penurunan sejak Maret 2026. Di salah satu pasar di Kota Medan, harga ayam turun dari sekitar Rp43 ribu menjadi Rp33 ribu per kilogram atau sekitar 23,3 persen. Sementara di pasar tradisional Kabupaten Deli Serdang, penurunannya mencapai sekitar 16 persen pada periode yang sama.

Di tingkat produsen, harga ayam hidup juga mengalami penurunan cukup tajam. Dari kisaran Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram pada Mei, harga sempat menyentuh Rp16.500 per kilogram pada pekan lalu.

Hal serupa terjadi pada harga telur ayam. Dari kisaran Rp30.600 per kilogram pada Mei, harga turun menjadi sekitar Rp28.300 per kilogram di salah satu pasar tradisional Deli Serdang sejak 19 Juni dan masih bertahan hingga kini.

Meski demikian, Benjamin mengingatkan bahwa penurunan harga daging ayam dan telur tidak boleh langsung dikaitkan dengan berhentinya sementara operasional dapur MBG selama libur sekolah.

“Penurunan harga daging ayam dan telur ayam bukan hanya dipicu oleh liburnya dapur MBG. Pemerintah perlu mewaspadai kondisi ini karena bisa menjadi sinyal adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat. Jika konsumsi rumah tangga melemah, harga komoditas juga berpotensi ikut terkoreksi,” jelasnya.

Ia menilai pemerintah perlu terus memantau perkembangan harga pangan sekaligus menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *