LangkatTerkini.Com – Kondisi memprihatinkan yang dialami oleh Pak Matani (72), warga Lingkungan I, Kelurahan Bingai, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara mendapat perhatian dari Bupati Langkat, H. Syah Afandin SH.
Setelah mengetahui informasi bahwa rumah Pak Matani mengalami kerusakan parah dan tidak layak huni, Bupati Langkat segera menginstruksikan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Langkat, untuk meninjau langsung kondisi tersebut.
Pak Matani, yang seorang buruh serabutan, tidak bisa berbuat banyak. Kondisi rumahnya yang berdinding papan lapuk, tepas dan atap bocor semakin memperparah keadaan, terutama setelah bagian dapur rumahnya rubuh.
Mendengar kabar tersebut, Bupati Langkat gerak cepat. Ketua PAN Sumut itu menyatakan keprihatinannya dan menegaskan bahwa pemerintah daerah akan segera mengambil langkah konkret untuk membantu Pak Matani. Beliau menginstruksikan Dinas Sosial untuk melakukan peninjauan dan memberikan bantuan yang diperlukan.
“Saya sudah minta supaya Kadis Sosial untuk meninjau,” kata Ondim sapaan aktab Syah Afandin kepada Langkatterkini.com, Jumat (18/4/2025).
Masyarakat dan lembaga sosial juga diharapkan dapat turut serta dalam membantu Pak Matani, baik melalui donasi maupun bentuk bantuan lainnya, agar beliau dapat menikmati kehidupan yang lebih layak di usia senjanya.

Sebelumnya diberitakan, dua orang Lanjut Usia, Matani bersama Istrinya seharusnya menikmati ketenangan dan kenyamanan hidup. Namun realitas yang ia hadapi justru sebaliknya. Tinggal di sebuah rumah reot di Lingkungan I, Kelurahan Bingai, Kecamatan Wampu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Matani hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Dapur rumahnya yang berdinding tepas dan atap tersebut tiba-tiba rubuh. Saat istrinya sedang memasak. Istri meminta tolong kepada suaminya.
Untuk memperbaiki rumahnya tersebut, ia tak memiliki uang. Dulu dirinya bekerja sebagai pengeruk pasir di sungai Wampu. Namun sekarang ia tak bisa lagi bekerja karena usia sudah tua.
Saat ini, Ia bekerja membersihkan kebun milik warga sekitar, penghasilannya perbulan Rp200 ribu. Tak hanya itu, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya ia menjadi tukang kusuk apabila ada yang meminta pertolongan kepadanya.
Rumah tempat tinggalnya jauh dari kata layak. Dinding papan sudah lapuk dimakan usia, atap bocor, dan tidak memiliki fasilitas sanitasi yang memadai serta tidak memiliki kompor gas. Di tengah keterbatasan fisik dan usia, Matani tetap bertahan hidup tanpa penghasilan tetap.
Warga sekitar mengenal Matani sebagai sosok yang sabar dan tidak pernah mengeluh, meskipun jelas terlihat bahwa ia sangat membutuhkan bantuan. Hingga kini, belum ada perhatian signifikan dari pihak pemerintah maupun lembaga sosial terkait untuk memperbaiki kondisi tempat tinggalnya atau memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Matani sangat membutuhkan bantuan, baik berupa perbaikan rumah, kebutuhan pokok harian, hingga dukungan lainnya. Masyarakat yang memiliki kepedulian sosial diharapkan dapat turut serta meringankan beban hidup beliau. Pemerintah Kabupaten Langkat diharapkan segera bedah rumah Kakek tersebut.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, lembaga sosial, ataupun masyarakat umum untuk membantu Pak Matani. Rumahnya sangat tidak layak, dan beliau hidup bersama istrinya,” ujar Koordinator Lingkar Wajah Kemanusiaan (LAWAN Institute) Sumut, Abdul Rahim Daulay yang juga dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Binjai.
Melalui kisah ini, Rahim berharap semoga banyak pihak yang tergerak hatinya untuk membantu. Karena setiap rakyat Indonesia berhak mendapatkan kesejahteraan sosial dan hidup layak.














