EKBIS

Harga Beras Turun Tipis di Sumut, Ancaman Kenaikan Masih Mengintai

×

Harga Beras Turun Tipis di Sumut, Ancaman Kenaikan Masih Mengintai

Sebarkan artikel ini
KPK Sebut Korupsi Bansos Presiden 2020 Rugikan Negara Rp125 M
Pengemasan beras (antara foto)

LangkatTerkini.com – Harga beras di pasaran Sumatera Utara (Sumut) masih terpantau stabil dengan kecenderungan menurun tipis. Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga beras medium mengalami penurunan sekitar Rp100 hingga Rp150 per kilogram.

Pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengungkapkan bahwa saat ini harga beras medium berada di kisaran Rp14.850 hingga Rp15.300 per kilogram. Angka tersebut turun dari posisi sebelumnya pada 3 April 2026 yang berada di kisaran Rp14.950 hingga Rp15.450 per kilogram.

“Penurunan ini terjadi meskipun harga gabah di tingkat petani justru mengalami kenaikan,” ujarnya di Medan, Selasa (6/4/2026).

Ia menjelaskan, harga gabah kering panen (GKP) saat ini berada di kisaran Rp7.500 hingga Rp7.700 per kilogram, sementara gabah kering giling (GKG) telah menyentuh sekitar Rp8.700 per kilogram. Kenaikan ini turut mendorong Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan di Sumut naik sebesar 0,73 persen menjadi 105,76.

“Kenaikan NTP mencerminkan peningkatan indeks harga yang diterima petani, yang naik sebesar 1,92 persen secara bulanan pada Maret,” jelasnya.

Secara teori, lanjut Benjamin, tingginya harga gabah tersebut seharusnya mendorong harga beras ke kisaran Rp16.000 per kilogram. Namun, intervensi pemerintah melalui penyaluran bantuan sosial (bansos) beras dinilai mampu menekan permintaan di pasar.

“Distribusi bansos dalam jumlah besar membuat tekanan permintaan beras di pasar berkurang, sehingga harga cenderung turun,” katanya.

Ia menilai kondisi ini wajar terjadi, meskipun musim panen padi di Sumut telah berakhir. Namun demikian, Benjamin mengingatkan adanya potensi kenaikan harga beras di masa mendatang.

“Risiko gangguan pasokan masih terbuka, terutama akibat cuaca ekstrem yang dapat memengaruhi produksi,” ujarnya.

Selain itu, musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi menurunkan produksi beras. Sementara daerah yang masih memiliki surplus produksi bisa mengalami defisit akibat tingginya permintaan dari luar daerah.

Menurutnya, kunci pengendalian harga beras terletak pada kemampuan pemerintah dalam menjaga ketersediaan pasokan di tengah ancaman penurunan produksi.

Benjamin juga menyoroti faktor eksternal seperti kondisi geopolitik global yang berpotensi memicu kenaikan harga pupuk serta input pertanian lainnya, termasuk insektisida dan herbisida.

“Pemerintah perlu mewaspadai potensi kenaikan harga yang dipicu oleh gangguan pasokan dan faktor eksternal ke depan,” pungkasnya.

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *