EKBIS

Ekonom: Harga Beras Naik, Inflasi Sumut Juli Diperkirakan Tetap Terkendali

×

Ekonom: Harga Beras Naik, Inflasi Sumut Juli Diperkirakan Tetap Terkendali

Sebarkan artikel ini
KPK Sebut Korupsi Bansos Presiden 2020 Rugikan Negara Rp125 M
Pengemasan beras (antara foto)

LangkatTerkini.Com – Kenaikan harga daging ayam yang terjadi dalam dua pekan terakhir diperkirakan belum akan memberikan dampak signifikan terhadap laju inflasi di Sumatera Utara (Sumut) pada Juli 2026. Meski menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi, kenaikan rata-rata harga daging ayam masih relatif rendah sehingga pengaruhnya terhadap inflasi dinilai terbatas.

Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan rata-rata kenaikan harga daging ayam sepanjang Juli hanya berada di kisaran satu persen. Kondisi tersebut membuat kontribusi komoditas tersebut terhadap inflasi bulan ini masih tergolong kecil.

“Secara rata-rata, kenaikan harga daging ayam masih sekitar satu persen sehingga dampaknya terhadap inflasi Juli relatif kecil. Hal yang sama juga terjadi pada telur ayam. Walaupun belakangan mengalami kenaikan karena berakhirnya libur sekolah dan kembali berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG), rata-rata harga telur masih lebih rendah dibandingkan bulan Juni,” ujar Gunawan, Jumat (31/7/2026).

Menurutnya, tekanan inflasi dari komoditas daging ayam dan telur diperkirakan baru akan lebih terasa pada Agustus mendatang apabila tren kenaikan harga terus berlanjut.

Di sisi lain, sejumlah komoditas pangan tercatat mengalami kenaikan harga sepanjang Juli. Beras naik antara 1,5 hingga 5 persen, bawang putih sekitar 2,1 persen, sementara cabai rawit hijau mencatat lonjakan tertinggi hingga mencapai 54 persen.

Selain itu, harga susu bubuk meningkat sekitar tujuh persen, tomat naik sekitar 10 persen, wortel 14 persen, serta beberapa komoditas hortikultura lainnya seperti bayam, sawi hijau, dan kentang juga mengalami kenaikan.

Tidak hanya bahan pangan, sejumlah kebutuhan rumah tangga turut mengalami kenaikan harga. Produk seperti sampo, pembalut wanita, popok bayi, hingga berbagai bahan bangunan seperti besi, semen, cat tembok, dan batu bata tercatat mengalami penyesuaian harga.

Makanan Bergizi Gratis
Gunawan Benjamin

“Untuk batu bata memang belakangan sempat mengalami penurunan harga, bahkan kini lebih rendah dibandingkan saat awal kenaikan harga bahan bangunan terjadi secara serentak,” jelasnya.

Sementara itu, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga. Bawang merah turun sekitar 16 persen dan cabai merah sekitar 19 persen. Namun, menurut Gunawan, harga cabai merah di pasar modern masih relatif tinggi karena dipengaruhi kebijakan manajemen stok masing-masing ritel.

Penurunan harga juga terjadi pada beberapa kebutuhan rumah tangga seperti sabun deterjen dan sebagian tiket pesawat kelas premium. Sebaliknya, tarif penerbangan kelas ekonomi justru mengalami kenaikan. Di sektor investasi, harga emas di pasaran tercatat meningkat sekitar 10 persen.

Dengan perkembangan tersebut, Gunawan memperkirakan inflasi Sumatera Utara pada Juli masih berpotensi berada di atas 0,17 persen.

Lebih jauh, ia mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai tekanan inflasi hingga akhir tahun. Menurutnya, faktor cuaca serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih menjadi risiko utama yang dapat memengaruhi kenaikan harga berbagai komoditas, terutama pangan.

“Komoditas pangan masih akan menjadi penyumbang utama inflasi hingga akhir tahun. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak perubahan cuaca dan pelemahan rupiah yang memengaruhi biaya produksi pertanian,” katanya.

Gunawan menjelaskan, meningkatnya biaya produksi di tingkat petani juga menjadi perhatian serius. Kenaikan harga berbagai komponen produksi terjadi setelah konflik Iran dan Amerika Serikat memicu pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga biaya produksi maupun harga pokok penjualan produk pertanian ikut meningkat.

Ia menilai, apabila harga jual hasil pertanian di masa mendatang justru berada di bawah biaya produksi, maka dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan inflasi jangka pendek.

“Jika harga pangan lebih rendah dari biaya produksi, petani akan kesulitan memperoleh modal untuk kembali menanam, utang akan bertambah, bahkan berpotensi memicu alih fungsi lahan. Kondisi itu justru akan menjadi ancaman serius terhadap stabilitas pasokan pangan dan membuat inflasi semakin sulit dikendalikan,” pungkasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *