EKBIS

Harga Pupuk Kembali Naik, Dampak Konflik Global Dorong Kenaikan Harga Cabai dan Bawang

×

Harga Pupuk Kembali Naik, Dampak Konflik Global Dorong Kenaikan Harga Cabai dan Bawang

Sebarkan artikel ini
Harga Cabai di Awal Ramadan

LangkatTerkini.Com – Kenaikan harga pupuk kembali terjadi seiring memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Sebelumnya, lonjakan harga pupuk juga sempat terjadi saat pecah perang Rusia–Ukraina pada 2022, sebelum tekanan mulai mereda pada 2023.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menyebutkan bahwa kenaikan harga pupuk saat ini memang belum setinggi saat konflik Rusia–Ukraina.

“Sebagai perbandingan, harga pupuk NPK non-subsidi sempat menyentuh Rp17.000 per kilogram saat perang Rusia–Ukraina dimulai. Saat ini, harganya berada di kisaran Rp15.600 per kilogram,” ujarnya di Medan, Minggu (12/4/2026).

Meski demikian, harga pupuk saat ini tetap lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik Iran–AS. Sebelumnya, pupuk NPK berada di kisaran Rp15.000 per kilogram. Hal serupa juga terjadi pada pupuk KCL yang kini mencapai Rp13.000 per kilogram, naik dari sekitar Rp10.000 per kilogram sebelum Ramadan.

Untuk pupuk urea non-subsidi, harga saat ini berada di kisaran Rp11.000 per kilogram, meningkat signifikan dari sebelumnya sekitar Rp7.000 per kilogram sebelum konflik terjadi.

Selain pupuk, kenaikan juga terjadi pada harga herbisida dan insektisida. Kondisi ini turut memengaruhi harga keekonomian sejumlah komoditas pangan, khususnya hortikultura seperti cabai dan bawang.

“Saya menghitung harga keekonomian cabai merah di tingkat konsumen kini berada pada kisaran Rp30.000 hingga Rp36.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp27.000 hingga Rp33.000 per kilogram,” jelas Benjamin.

Sementara itu, harga keekonomian cabai rawit naik dari Rp32.000–Rp38.000 menjadi Rp34.000–Rp40.000 per kilogram. Untuk bawang merah, kenaikan terjadi dari Rp32.000–Rp36.000 menjadi Rp35.000–Rp39.000 per kilogram.

Benjamin menambahkan bahwa perhitungan tersebut belum memasukkan biaya panen, yang biasanya berkisar antara Rp100.000 hingga Rp130.000 per orang untuk satu kali panen. Namun, harga tersebut sudah mencakup margin keuntungan bagi petani.

Perhitungan ini didasarkan pada sampel petani di Sumatera Utara, sehingga dimungkinkan terdapat perbedaan di wilayah lain. Selain itu, harga keekonomian tersebut bersifat sementara karena dipengaruhi fluktuasi harga pupuk, herbisida, insektisida, hingga plastik mulsa.

“Kenaikan biaya produksi ini dipastikan akan mendorong kenaikan harga wajar komoditas hortikultura lainnya. Ketidakpastian akibat konflik global masih berpotensi memicu perubahan harga dalam waktu dekat,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa volatilitas harga sarana produksi pertanian masih tinggi dan sangat bergantung pada dinamika konflik global yang memengaruhi harga komoditas di pasar internasional.

Meski demikian, harga keekonomian ini dapat dijadikan acuan dalam menentukan harga ideal, baik di tingkat petani maupun konsumen pada musim panen mendatang. Hal ini penting agar kebijakan mitigasi yang diambil mampu menekan gejolak harga tanpa merugikan petani.

“Kerugian di tingkat petani justru bisa memicu lonjakan harga di kemudian hari dan pada akhirnya berdampak negatif bagi konsumen,” tutup Benjamin.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *