EKBIS

Bencana di Tapanuli Berpeluang Picu Penurunan Produksi Beras 269 Ribu Ton di Sumut

×

Bencana di Tapanuli Berpeluang Picu Penurunan Produksi Beras 269 Ribu Ton di Sumut

Sebarkan artikel ini
KPK Sebut Korupsi Bansos Presiden 2020 Rugikan Negara Rp125 M
Pengemasan beras (antara foto)

LangkatTerkini.Com – Bencana banjir dan longsor yang menimpa wilayah Kabupaten Tapanuli, Tengah, Tapanuli Selatan, Langkat, Kota Sibolga dan sejumlah wilayah lainnya di Sumut memicu penurunan produksi beras di sejumlah wilayah. 

“Wilayah Tapanuli dan Langkat menjadi wilayah yang paling parah terdampak bencana di Sumut, namun wilayah lain seperti Deli Serdang, Batubara hingga Serdang Bedagai juga tidak terlepas dari bencana banjir sebelumnya,” kata Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di Medan, Minggu (14/12/2025).

Lanjut Benjamin, mengingat 3 kabupaten terakhirr yang disebutkan tadi merupakan lumbung pangan Sumut untuk beras dan cabai. Memang perlu dilakukan pendataan ulang terkait luas lahan tanaman yang mampu diselamatkan. 

“Namun jika kita hanya berkaca ke Tapanuli (Utara, Tengah dan Selatan), wilayah ini memberikan kontribusi pasokan beras ke Sumut dalam rentang 269 ribu ton hingga 285 ribu ton di tahun 2024,” jelasnya.

Benjamin menjelaskan, artinya jika ketiga walayah kabupaten Tapanuli tersebut lahan sawahnya alami gangguan dan sulit dipulihkan setidaknya hingga 1 tahun yang akan datang. 

“Maka Sumut membutuhkan pasokan beras tambahan setidaknya 269 ribu ton. Jumlah ini berkisar setara dengan jumlah pasokan beras yang disediakan Bulog Sumut di tahun 2024 silam,” jelasnya.

Untuk Kabupaten Langkat sendiri, produksi beras di tahun 2024 berkisar 49 ribu hingga 52 ribu Ton. Wilayah Tanjung Pura, Besitang, Pangkalan Brandan hingga Pangkalan Susu menjadi wilayah yang paling terpuruk di Langkat. Sementara salah satu sentra produksi padi di kecamatan Hinai masih relatif bisa diselamatkan lahan sawahnya pasca banjir kemarin.

“Namun untuk kebutuhan jangka pendek setidaknya hingga kuartal pertama tahun 2026, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan berpeluang kehilangan produksi beras sebesar 122 ribu hingga 130 ribu Ton,” tambahnya.

Memang, kata Benjamin, belum begitu menjadi ancaman bagi potensi kenaikan harga beras di kuartal pertama tahun depan. Karena produksi beras dari wilayah Simalungun, Deli Serdang dan Sergei akan meningkat seiring dengan masa panen raya.

“Namun sebaiknya pemerintah mendata potensi kerusakan tanaman yang diakibatkan banjir di sejumlah sentra produksi beras tersebut. Karena wilayah langkat berpeluang alami gangguan produksi gabah yang bisa dihasilkan sekitar 43.500 ton di kuartal pertama tahun depan,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan Benjamin, termasuk juga beberapa wilayah lainnya seperti Deli Serdang dan Sergai. Bulog sebaiknya juga sudah melakukan antisipasi dengan meningkatkan pasokan cadangan beras untuk kuartal kedua tahun 2026 mendatang.

“Jika mengabaikan produksi di Tapanuli (Utara, Tengah dan Selatan), serta berasumsi bahwa produksi beras di Langkat, Deli Serdang dan Sergei tetap normal. Saya memperkirakan Sumut berpeluang membutuhkan sekitar 30 ribu ton beras tambahan di Januari 2026, dan membutuhkan beras dalam jumlah besar di bulan Mei hingga musim panen di bulan September mendatang,” jelasnya.

Benjamin menjelaskan skenario tersebut adalah skenario saya yang paling optimis. Namun jika lahan sawah di Tapanuli dan Langkat mampu di pulihkan dengan segera di kuartal pertama tahun depan, sementara Deli Serdang dan Sergei tidak mengalami gangguan produksi serius. Maka potensi penambahan pasokan beras setidaknya akan terjadi di kuartal kedua akhir atau kuartal ketiga tahun 2026.

(Abdul Rahim)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *