EKBIS

Pengamat Sarankan Pemerintah Sosialisasi ke Peternak Jika Gunakan Telur untuk Lauk MBG

×

Pengamat Sarankan Pemerintah Sosialisasi ke Peternak Jika Gunakan Telur untuk Lauk MBG

Sebarkan artikel ini
Bulog Jual Beras
Gunawan Benjamin (Foto: Istimewa)

LangkatTerkini.Com – Produksi daging ayam diproyeksikan naik sekitar 38% pada bulan Oktober. Dipastikan kenaikan konsumsi daging ayam karena Makan Bergizi Gratis (MBG) juga akan diikuti oleh kenaikan konsumsi untuk kebutuhan pangan lainnya. 

“Salah satunya adalah potensi kenaikan konsumsi untuk telur ayam. Saya menyarankan agar dapur penyelenggara MBG mempertimbangkan dengan baik penggunaan telur ayam untuk dijadikan lauk secara bertahap,” kata Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Senin (6/10/2025).

Benjamin menjelaskan karena karakteristik supply (persediaan) untuk telur ayam ini berbeda dengan daging ayam. Daging ayam bisa diproduksi dalam kurun waktu 25 hari. Sementara untuk telur ayam perencanaan produksinya bisa memakan waktu hingga 18 minggu. 

“Itu perencanaan untuk kendang yang sudah siap pakai. Jika sarana pendukungnya belum tersedia, maka membutuhkan waktu lebih panjang lagi,” ujarnya.

Jika konsumsi telur ayam dilakukan saat ini, ungkapnya, dimana harga telur ayam sejauh ini berada dalam rentang 1.400 hingga 2.100 per butir. Maka yang dikuatirkan adalah potensi kenaikan harga telur ayam yang lebih tinggi saat demandnya naik. Memang kenaikan tersebut menjadi kabar baik bagi peternak. Namun bisa buat gaduh karena inflasi akan alami kenaikan juga.

“Meskipun saya juga memahami bahwa saat harga telur ayam naik peternak juga bisa mengandalkan sumber lauk dari bahan lainnya. Tetapi memang sebaiknya kita memiliki perencanaan konsumsi maupun produksi yang ideal yang tidak memicu masalah baru. Bukan kebijakan tanpa perencanaan yang membuat gaduh ditengah masyarakat,” kata Benjamin.

Benjamin menyarankan pemerintah melakukan sosialisasi terlebih dahulu ke peternak sekiranya program MBG ini nantinya akan tetap menjadi program prioritas pemerintah. Namun sebaiknya isu keracunan atau masalah mendasar lain yang dinilai mengganjal keberlangsungan program MBG. 

“Di saat sejumlah isu besar teratasi, saya yakin bukan hanya masyarakat yang akan menerima program tersebut. Pelaku usaha dalam setiap rantai pasokan bahan makanan juga akan lebih mudah untuk diarahkan,” kata Benjamin.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *