LangkatTerkini.Com – Sahlan Batubara merupakan anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, putra dari pasangan Muhammad Yunus Batubara dan almarhumah Maimunah Lubis yang sehari-hari bekerja sebagai petani.
Ia lahir di Desa Simangambat Patahajang, salah satu desa di Kabupaten Mandailing Natal yang berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat. Sejak kecil, Sahlan tumbuh dalam kehidupan sederhana, dibesarkan dengan kasih sayang seorang ibu dan perjuangan keras seorang ayah.
Setelah menamatkan pendidikan dasar, Sahlan melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Musthafawiyah. Selama menimba ilmu di pesantren, ia menjalani kehidupan yang penuh keterbatasan. Orang tuanya hanya mampu mengirimkan bekal setiap minggu berupa beras, cabai giling, kentang sekitar satu kilogram, serta uang sebesar Rp25 ribu untuk kebutuhan bersama dengan adiknya.
Keterbatasan ekonomi sempat membuatnya ingin berhenti sekolah. Namun, sang ayah selalu menanamkan nilai kesabaran dan rasa syukur, serta mendorongnya untuk tetap melanjutkan pendidikan. “Jangan berhenti sekolah, karena orang tua akan lebih sedih jika kamu berhenti,” pesan yang selalu diingatnya.
Selama tujuh tahun, Sahlan menempuh pendidikan di pesantren tersebut. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke IAIN Sumatera Utara di Medan. Demi mencukupi kebutuhan kuliah, ia bekerja sambil belajar. Bersama kakaknya, ia berjualan sandal di kawasan Simpang Jodoh, Tembung, sepulang kuliah hingga malam hari.
Semangat juang tersebut tidak hanya ia rasakan sendiri, tetapi juga menjadi inspirasi bagi adiknya. Sahlan terus memberikan motivasi agar adiknya melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Setelah meraih gelar sarjana (S1), Sahlan melanjutkan pendidikan magister (S2) di Universitas Negeri Padang dengan biaya mandiri. Dalam perjuangannya, ia bahkan tinggal di mushola dan mengajar anak-anak mengaji untuk bertahan hidup selama kuliah.
Berkat tekad kuat, doa, serta dukungan keluarga, ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2. Perjuangan itu kemudian diikuti oleh adiknya yang juga melanjutkan studi ke jenjang yang sama.
Tak berhenti di situ, Sahlan melanjutkan pendidikan doktoral (S3) di UIN Sumatera Utara Medan. Puncak perjuangannya terwujud saat ia berhasil menyelesaikan studi dan menjalani sidang promosi doktor pada 13 Maret 2026.
Kini, Dr. Sahlan Batubara, S.Pd.I., M.Pd menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa dengan kerja keras, doa, dan dukungan keluarga, mimpi besar dapat terwujud.
Pesan orang tua yang selalu ia pegang hingga kini adalah, “Tetaplah melanjutkan pendidikan, jangan biarkan keterbatasan ekonomi menjadi penghalang.”
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari peran serta keluarga, khususnya abang dan kakak yang selalu berupaya membantu dalam pendidikan, bahkan sering mendahulukan kebutuhan adik-adiknya.














