BERITA UTAMA

Harga Kebutuhan Pokok Naik, Sumut Berpotensi Deflasi maupun Inflasi

×

Harga Kebutuhan Pokok Naik, Sumut Berpotensi Deflasi maupun Inflasi

Sebarkan artikel ini
Jelang Idul Adha
Pantauan di Pasar

LangkatTerkini.Com – Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin mengatakan Sumut mengalami inflasi sebesar 0.76% pada bulan Juli secara bulanan (mont to month). Laju tekanan inflasi Sumut dipicu oleh kenaikan harga kelompok makanan dan minuman.

“Kontribusi yang paling besar terhadap laju tekanan inflasi adalah bawang merah dan beras. Inflasi yang terjadi pada bulan Agustus di dorong oleh penurunan pada sisi persediaan atau supply, yang juga diikuti oleh sisi konsumsi yang mengalami pemulihan,” jelas Benjamin di Medan, Senin (4/8/2025).

Benjamin mengatakan, untuk konsumsi dipicu oleh membaiknya demand seiring dengan kebijakan insentif pemerintah. Ditambah dengan program makan bergizi gratis (MBG) yang turut mendorong peningkatan permintaan pada komoditas tertentu. Dan pada bulan Agustus ini, potensi deflasi maupun inflasi sama besar peluang terjadinya. Karena di bulan ini ada beberapa komoditas pangan yang berpeluang turun dan naik.

“Beras menjadi komoditas yang berpeluang turun di bulan agustus ini. Pemicunya adalah membaiknya sisi persediaan atau supply yang mengalami kenaikan. Kita akan memasuki musim panen raya pada bulan Agustus hingga bulan November mendatang. Dan setidaknya pasokan beras lokal akan tetap cukup hingga kuartal pertama tahun depan,” ujarnya.

Selanjutnya, sambungnya, komoditas cabai, khususnya cabai merah saat ini ditransaksikan mahal atau naik di kisaran 25 ribu per Kg di kota medan. Harga cabai ini sebenarnya sesuai dengan harga keekonomiannya. Namun petani Sumut tengah berhadapan dengan kenaikan pasokan cabai akibat musim panen raya.

“Kenaikan pasokan tersebut jika tidak dibarengi dengan kenaikan demand di sejumlah wilayah seperti Riau, kepulauan Riau termasuk ke wilayah luar Sumut lainnya,” kata Benjamin.

Maka harga cabai merah ke depan, kata Benjamin beresiko alami penurunan harga. Harga yang dinikmati petani saat ini bisa berbalik dan merugikan para petani kita. Jadi cabai sejatinya punya peluang turun dan berpotensi memicu deflasi. Dan jika cabai memicu inflasi diproyeksikan tidak akan signifikan di bulan agustus ini. Nah cabai masih berpeluang untuk berada di dua zona (inflasi dan deflasi).

“Demand atau permintaan yang akan jadi penentu kemana pergerakan cabai nantinya. Selebihnya ada ikan segar seperti ikan tongkol dan ikan dencis. Yang juga bepeluang alami penurunan harga di bulan Agustus ini. Sejauh ini kedua harga ikan segar tersebut masih berada dikisaran 33 ribu per Kg. Selain ikan segar ada tomat yang juga berpeluang membentuk deflasi di bulan Agustus,” jelasnya.

Dimana, lanjutnya, harga tomat berpeluang bergerak dalam rentang 5 hingga 8 ribu per Kg. Sementara itu bawang merah yang sudah naik tinggi di atas 50 ribu per Kg, pada dasarnya berpeluang untuk turun di agustus ini. Namun jika harga bawang merah bertahan di level yang sama hingga pekan ketiga agustus, maka bawang merah tetap akan menyumbang inflasi.

“Selebihnya untuk komoditas pangan di Sumut diproyeksikan akan berada dalam rentang yang sama atau stabil. Seperti daging ayam, daging sapi, minyak goreng, gula pasir, dan bawang putih. Jadi di Agustus ini sejumlah harga kebutuhan pokok berpeluang turun, meskipun inflasi dan deflasi tetap berpeluang terjadi sama kuat, tetapi tetap cenderung alami deflasi di Agustus nanti,” pungkasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *