LANGKAT

Hutan Mangrove Rusak, Penghasilan Nelayan Kepiting di Langkat Terjun Bebas

×

Hutan Mangrove Rusak, Penghasilan Nelayan Kepiting di Langkat Terjun Bebas

Sebarkan artikel ini
Nelaya kepiting

LangkatTerkini.Com – Kerusakan dan alih fungsi hutan mangrove menjadi perkebunan sawit berdampak langsung terhadap kehidupan nelayan kepiting bakau di Desa Kwala Langkat, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Selain hasil tangkapan yang terus menurun, pendapatan para nelayan kini semakin sulit mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Padahal, hutan mangrove memiliki peran penting sebagai ekosistem pesisir yang melindungi pantai dari abrasi, mencegah intrusi air laut, menyerap polutan, serta menjadi habitat berbagai jenis biota, termasuk kepiting bakau yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Salah seorang nelayan kepiting bakau, Khairul Anwar, mengaku telah menggantungkan hidupnya dari menangkap kepiting selama lebih dari 10 tahun. Namun, kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.

“Kalau sekarang paling dapat sekitar 2 sampai 3 kilogram per hari. Harga jual juga tergantung ukuran. Yang kecil sekitar Rp10 ribu per kilogram, sedangkan ukuran sedang sekitar Rp25 ribu per kilogram,” ujar Khairul kepada wartawan.

Setelah memperoleh hasil tangkapan, para nelayan menjual kepiting kepada agen atau tengkulak di Desa Kwala Langkat. Dari hasil penjualan tersebut, mereka hanya mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp70 ribu hingga Rp100 ribu per hari.

Namun, menurut Khairul, pendapatan tersebut belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terlebih biaya pendidikan anak dan kebutuhan rumah tangga terus meningkat.

“Kalau dapat Rp100 ribu, masih dipotong lagi untuk beli solar. Kadang terpaksa berutang ke warung atau ke tokeh supaya kebutuhan keluarga tetap terpenuhi,” katanya.

Khairul menjelaskan, menurunnya hasil tangkapan dipengaruhi rusaknya kawasan hutan mangrove yang selama ini menjadi habitat utama kepiting bakau. Selain itu, cuaca yang tidak menentu dan keterbatasan alat tangkap juga menjadi kendala bagi para nelayan.

“Kendalanya sekarang hutan mangrove sudah banyak yang rusak. Ditambah faktor cuaca. Alat tangkap kami hanya bubu untuk kepiting bakau dan jaring untuk kepiting laut. Transportasi yang dipakai juga hanya perahu atau sampan,” ungkapnya.

Untuk menangkap kepiting, Khairul biasanya membawa bubu ke kawasan hutan bakau. Umpan berupa ikan mati dipasang di dalam bubu, kemudian diletakkan di sekitar akar-akar mangrove yang menjadi tempat persembunyian kepiting.

Sekali melaut, Khairul harus mengeluarkan modal sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu untuk membeli bahan bakar. Jika harus bermalam di laut, biaya operasional bisa mencapai Rp100 ribu bahkan lebih, termasuk untuk kebutuhan makan.

Di Desa Kwala Langkat, jumlah nelayan kepiting masih cukup banyak. Namun, hampir seluruhnya merasakan penurunan hasil tangkapan sejak kawasan mangrove mengalami kerusakan dan beralih fungsi menjadi perkebunan sawit.

Kondisi tersebut tidak hanya mengancam kelestarian ekosistem pesisir, tetapi juga berdampak pada keberlangsungan ekonomi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil tangkapan kepiting bakau. Para nelayan berharap kawasan mangrove dapat kembali dilestarikan agar populasi kepiting pulih dan mata pencaharian mereka dapat kembali membaik.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *