LangkatTerkini.Com – Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin mengatakan harga cabai merah dari hasil pemantauan langsung di sejumlah wilayah di Sumut menunjukan pergerakan yang relatif stabil.
“Berdasarkan hasil pemantauan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), pada Jumat (13/02) di Kota Medan harga rata-rata cabai merah 37.500 per Kg. realtif tidak banyak berubah dalam dua pekan terakhir,” kata Benjamin di Medan, Sabtu malam (15/2/2026).
Harga cabai merah sejauh ini, kata Benjamin, terbilang bergerak sedikit di atas harga keekonomiannya.
Benjamin menghitung harga keekonomian cabai merah saat ini berada di kisaran 28 hingga 33 ribu per Kg.
“Sementara di pasar tradisional pada akhir pekan ini bergerak dalam rentang 32 hingga 35 ribu per Kg. Artinya harga cabai merah masih mampu mengakomodir harga di level petani dan tidak begitu merugikan konsumen,” jelas Benjamin.
Namun, harga ini bisa saja terbilang lebih mahal, jika seandainya tidak ada bencana yang terjadi di Sumut pada November silam. Ia memproyeksikan jika tanpa bencana di November harga cabai merah bisa dibawah 20 ribu per Kg nya.
“Karena bencana yang terjadi pada bulan November dan dampaknya dirasakan hingga bulan Desember, membuat banyak tanaman Cabai alami gagal tanam atau pola tanam alami kemunduran,” jelasnya.
Seharusnya, lanjutnya, di beberapa titik di wilayah Sumut dan Aceh, akan memasuki musim panen raya cabai merah pada bulan Februari ini.
“Namun sayangnya karena bencana panen cabai bulan ini akan sangat sedikit. Bahkan dari sejumlah pedagang besar yang diobservasi, pasokan cabai merah jelang Ramadan nanti hanya sekitar 50% dari sejumlah titik produksi yang terkena bencana,” jelasnya.
Meskipun dari wilayah Kabupaten Karo, Simalungun dan sekitarnya pasokan cabai merah nanti alami signifikan. Dan dari beberapa titik produksi yang gagal panen maksimal di bulan Februari, pada dasarnya hasil panennya kerap dijual ke luar wilayah Sumut.
“Sehingga ancaman kenaikan aharga cabai merah di Sumut bukan diakibatkan dari bencana itu secara langsung,” kata Benjamin.
Namun, jelas Benjamin, yang dikuatirkan adalah terjadinya potensi pergeseran supply dari wilayah produsen seperti kabupaten karo, yang banyak mengalir ke luar Sumut.
“Tekanan dari sisi harga terbentuk justru dikarenakan adanya potensi kenaikan harga dari wilayah Sumut. Inilah yang mengakibatkan harga cabai tetap berpeluang naik meskipun dari sisi pasokan atau supply mencukupi,” kata Benjamin.










