EKBIS

Pengamat Ungkap Penyebab Harga Beras di Sumut Lambat Turun

×

Pengamat Ungkap Penyebab Harga Beras di Sumut Lambat Turun

Sebarkan artikel ini
Harga Beras di Sumut
Kapolres Langkat AKBP David menjual beras murah meringankan bebas masyarakat (Foto: Humas Polres Langkat)

LangkatTerkini.Com – Harga gabah kering panen (GKP) di wilayah Sumatera Utara (Sumut) selama bulan Agustus alami penurunan yang cukup signifikan dari kisaran 8.300 per Kg di bulan Juli, menyentuh level terendahnya di kisaran harga 6.800 per Kg pada bulan Agustus. Namun, dampak dari penurunan harga gabah tersebut belum begitu signifikan menekan harga beras di level konsumen.

Hal itu dijelaskan Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin di Medan, Senin (25/8/2025).

“Jika membandingkan HPP (harga pokok produksi) dari GKP 8.300 dengan GKP 6.800 per Kg. Maka harga di level konsumen itu bisa bergeser dari kisaran 16.282 hingga 16.682 per Kg, menjadi 13.472 hingga 13.872 per Kg. Dan mengacu kepada realisasi harga beras PIHPS (Pusat Informasi Harga Pangan Strategis) di Provinsi Sumatera Utara, untuk jenis medium sejauh ini (25/08/2025) ditransaksikan dalam rentang 14.950 hingga 15.300 per Kg,” jelasnya.

Benjamin menambahkan, harga Beras memang mengalami penurunan sekitar 500 hingga 1.000 per Kg selama bulan Agustus. Namun penurunan harga beras di level konsumen masih lebih rendah dibandingkan dengan penurunan pada harga gabah. Harga beras sejauh ini turun dibawah 10% di bulan Agustus, sementara itu harga gabah sudah turun lebih dari 15% dari level tertingginya di bulan Juli.

“Penurunan harga beras juga tidak serentak terjadi untuk semua jenis beras, dan belum merata di semua pedagang. Sehingga masih bisa ditemukan dengan mudah pedagang yang masih bertahan dengan harga beras yang lama. Semestinya pada bulan September nanti, harga beras di level konsumen akan berubah secara merata dan lebih menggambarkan titik keseimbangan baru,” kata Benjamin.

Benjamin menilai penurunan harga beras yang terbilang lamban saat ini perlu ditelusuri lebih jauh. Terlebih pemerintah mengklaim telah mendistribusikan beras SPHP ke pasar. Dimana klaim pemerintah ditambah dengan musim panen raya semestinya akan memicu penurunan harga yang lebih cepat. Karena kunci untuk menekan harga saat ini adalah pasokan dan durasi distribusinya.

“Sejauh ini beras SPHP memiliki harga yang paling kompetitif dibandingkan dengan harga jenis beras medium lainnya. Dengan harga yang sekitar 13.100 per Kg, dan bila ditambah dengan durasi yang tinggi. Maka demand beras tidak hanya akan terfokus kepada perusahaan penggilingan saja. Lebih dari itu saluran distribusi dari Bulog pada akhrinya juga akan membanjiri pasokan beras di pasar,” paparnya.

Berdasarkan dari informasi yang dihimpun, ungkap Benjamin, Bulog Sumut berencana mendistribusikan beras SPHP 15.700 ton ke masyarakat. Di tengah musim panen padi di wilayah Sumut dimana harga berasnya juga dalam tren turun, beras SPHP Bulog potensial untuk menekan harga beras lebih cepat. Terlebih jika jumlah dan durasinya mampu dipertahankan di setiap bulan.

“Karena menurut hemat saya tantangan pengendalian harga beras saat ini lebih pada bagaimana pemerintah mengelola cadangan berasnya. Polemik harga beras tidak akan terjadi bila serapan beras di pasar tidak mengandalkan sepenuhnya produksi dari petani. Karena di tahun 2024 harga beras yang tidak bergejolak (naik) sebagian kebutuhannya juga didatangkan dari beras SPHP yang diimpor dari negara lain,” jelas Benjamin mengakhiri.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *