LangkatTerkini.Com – Aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang masih berstatus Level III (Siaga) mulai menunjukkan penurunan. Meski aktivitas erupsi berangsur normal dan tidak lagi memuntahkan awan panas dalam jumlah signifikan, kondisi tersebut belum sepenuhnya berdampak terhadap penurunan harga pangan, khususnya komoditas sayur-sayuran dan cabai.
Pengamat Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, mengatakan harga sejumlah komoditas pangan masih bertahan pada level tinggi. Berdasarkan pemantauannya melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah di Pasar Petisah, Kota Medan, berada di kisaran Rp56 ribu per kilogram dan belum mengalami perubahan signifikan sejak awal September. Sementara cabai rawit masih stabil di sekitar Rp60 ribu per kilogram.

Menurut Gunawan, kenaikan justru terjadi pada cabai caplak merah. Komoditas tersebut yang sebelumnya berada di kisaran Rp65 ribu per kilogram kini mencapai sekitar Rp78 ribu per kilogram. Harga tomat juga mengalami kenaikan dari sekitar Rp12 ribu menjadi Rp14 ribu per kilogram.
Selain komoditas hortikultura, harga gula pasir juga mulai menunjukkan kenaikan pada September. Gunawan menyebut kenaikan belum terjadi secara merata. Berdasarkan pemantauan PIHPS, harga gula pasir di Pusat Pasar Medan mengalami kenaikan sekitar Rp250 per kilogram.
“Saya memproyeksikan harga gula pasir berpeluang naik serentak nantinya dan berpeluang mendorong kenaikan laju tekanan inflasi,” kata Gunawan di Medan, Kamis (10/9/2026).

Ia menambahkan, inflasi Sumatera Utara diperkirakan masih berada dalam tren meningkat pada September. Sejauh ini, cabai dan gula pasir disebut telah memberikan kontribusi terhadap inflasi, sedangkan harga daging ayam dan beras masih relatif tinggi.
Di sisi lain, harga minyak goreng juga berpotensi mengalami kenaikan seiring harga crude palm oil (CPO) yang berada di sekitar 4.978 ringgit per ton. Gunawan menilai harga CPO masih berpeluang kembali menguji level 5.000 ringgit per ton seperti yang pernah dicapai pada akhir Agustus.
Dengan adanya potensi kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat, Gunawan mengimbau pemerintah, khususnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), untuk mewaspadai potensi gangguan pasokan dan distribusi yang dapat memicu kenaikan harga lebih lanjut.
“Produksi sejumlah kebutuhan pangan masih dihantui ancaman bencana alam dan musim kemarau panjang (El Nino). Faktor alam menjadi variabel yang sulit diproyeksikan dan memiliki daya rusak yang besar serta tentunya dapat memicu lonjakan inflasi,” ujarnya.
Gunawan menilai harga pangan belakangan ini masih rawan bergejolak. Kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi faktor bencana alam dan perubahan musim yang berpotensi mengganggu produksi maupun distribusi hasil pertanian.










