LangkatTerkini.Com – Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai kelangkaan sejumlah merek beras yang terjadi di pasar Sumatera Utara (Sumut) perlu mendapat perhatian pemerintah. Meski belum memicu kepanikan masyarakat, kondisi tersebut berpotensi mengganggu pelaku usaha yang bergantung pada jenis beras tertentu.
Gunawan mengatakan, sejumlah ritel modern dan pedagang pengecer belakangan mengeluhkan minimnya pasokan beberapa merek beras. Kondisi tersebut, menurutnya, terutama dapat berdampak kepada pelaku usaha kuliner yang menggunakan jenis atau merek beras tertentu dalam kegiatan usahanya.
“Beberapa merek yang hilang sejauh ini belum memicu kepanikan besar (panic buying) masyarakat. Tetapi bagi masyarakat tertentu, khususnya pedagang kuliner yang bergantung pada jenis beras merek tertentu, kelangkaan ini jelas bisa menjadi masalah serius bagi kesinambungan usaha mereka,” ujar Gunawan di Medan, Sabtu (22/8/2026).
Meski demikian, Gunawan memperkirakan persoalan pasokan tersebut dapat segera teratasi dalam satu hingga dua pekan mendatang. Hal itu seiring dengan mulai berlangsungnya musim panen padi di sejumlah wilayah Sumut.
Menurutnya, ketersediaan stok Bulog menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga pasokan beras hingga masa panen. Ia menilai stok sekitar 66 ribu ton perlu dipastikan tersedia untuk menjaga keamanan pasokan dalam jangka pendek.
“Yang penting Bulog mampu menyediakan pasokan beras setidaknya untuk satu hingga dua pekan mendatang, atau setidaknya Bulog memiliki 66 ribu ton untuk memastikan pasokan aman dalam jangka pendek,” katanya.
Gunawan juga menyoroti persoalan data produksi dan ketersediaan beras yang dinilainya masih menjadi tantangan. Menurut dia, data pasokan beras dari pemerintah maupun pelaku usaha penggilingan padi dapat berubah mengikuti kondisi produksi petani dan faktor cuaca.
“Data ini penting sebagai cara untuk memitigasi risiko yang berpeluang muncul di masa mendatang,” ujarnya.
Ia menilai pemetaan produksi dan konsumsi beras perlu diperkuat agar pemerintah memiliki gambaran yang lebih akurat mengenai kebutuhan dan ketersediaan komoditas pangan tersebut.
Selain itu, distribusi beras yang melibatkan perdagangan antarprovinsi juga perlu diperhitungkan. Menurut Gunawan, gangguan pasokan di suatu daerah dapat memengaruhi arus distribusi beras dari daerah lain.
“Distribusi beras ini juga terjadi lintas daerah, sehingga potensi gangguan pasokan terkadang bisa diselesaikan melalui tata niaga yang telah terjalin antar pedagang besar maupun produsen,” katanya.
Ancaman Pasokan dari Dampak El Nino

Gunawan memperkirakan persoalan kelangkaan beras yang terjadi saat ini dapat segera teratasi. Namun, ia mengingatkan adanya tantangan yang lebih besar terhadap pasokan beras dalam beberapa bulan ke depan, termasuk potensi gangguan produksi akibat fenomena El Nino.
Menurutnya, meskipun Sumut mampu memaksimalkan produksi padi, kondisi tersebut belum sepenuhnya menjamin terhindarnya daerah ini dari ancaman kenaikan harga maupun gangguan pasokan.
“Jika wilayah lain mengalami gagal panen yang memicu penurunan produksi, maka pasokan beras yang ada di Sumut berpotensi mengalir ke wilayah tersebut,” jelasnya.
Ia juga menyoroti potensi dampak fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga kuartal pertama 2027. Kondisi tersebut dinilai perlu diantisipasi sejak dini melalui kebijakan pemerintah yang mampu menjaga ketersediaan dan stabilitas harga beras.
Gunawan mengatakan pemerintah perlu menyiapkan berbagai instrumen kebijakan untuk menghadapi potensi gangguan pasokan tersebut. Apalagi, puncak musim panen padi di Sumut diproyeksikan berlangsung pada September hingga Oktober.
“Musim panen padi di Sumut yang diproyeksikan puncaknya berlangsung September hingga Oktober berpeluang tidak mampu menyisakan stok hingga Februari atau Idul Fitri mendatang,” katanya.
Karena itu, menurut Gunawan, pemerintah perlu melakukan penguatan cadangan beras, memperbaiki akurasi data produksi dan konsumsi, serta memastikan distribusi berjalan lancar agar potensi gangguan pasokan dan lonjakan harga dapat diantisipasi lebih awal.












