LangkatTeekini.Com – Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Sumatera Utara Densus 88 Anti Teror Polri berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) serta Aksha Brata Consultant menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film Tanah Runtuh di CGV Focal Point, Medan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme dan intoleransi melalui pendekatan edukatif dan humanis. Film dipilih sebagai media untuk menyampaikan pesan kebangsaan, toleransi, dan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Kasatgaswil Sumut Densus 88 Anti Teror, Kombes Pol. Dr. Didik Novi Rahmanto, S.I.K., M.H., mengatakan bahwa film Tanah Runtuh memberikan gambaran bagaimana tindakan terorisme dapat berawal dari persoalan-persoalan kecil yang berkembang akibat sikap intoleran, eksklusif, serta penyebaran informasi yang bersifat provokatif.
“Melalui film Tanah Runtuh, kita dapat melihat bagaimana terorisme dapat tumbuh dari hal-hal kecil yang berawal dari perbedaan, kemudian berkembang karena sikap intoleransi dan eksklusivisme yang tidak terkendali. Ditambah dengan penyebaran informasi yang provokatif, persoalan kecil tersebut akhirnya berkembang menjadi isu SARA yang dimanfaatkan sebagai alasan melakukan aksi teror,” ujar Didik.

Kegiatan nobar ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai unsur masyarakat dan pemerintah. Turut hadir Kepala Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Sosial Kesbangpol Provinsi Sumatera Utara, Emir Mahbob Lubis, S.STP., M.AP.; Staf Ahli Wali Kota Medan Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Rakhmat Adisyah Putra Harahap, S.STP., M.A.P.; serta Founder Aksha Brata Consultant, Arief Budiono, S.E., M.I.P.
Dalam kesempatan tersebut, Arief Budiono menerima penghargaan dari Kepala Kepolisian Republik Indonesia atas kontribusi dan dukungannya terhadap program pencegahan yang dijalankan Satgaswil Sumut Densus 88 Anti Teror.
Film Tanah Runtuh mengisahkan perjalanan dua kakak beradik, Ringgo (11), seorang anak penyandang Down Syndrome, dan adiknya Kai (9), yang terpisah dari sang ibu saat kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah. Dalam perjalanan mencari ibunya, mereka bertemu Idham, seorang anggota kepolisian yang diperankan Vino G. Bastian, yang memilih mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan di tengah konflik. Film ini menyajikan kisah tentang keluarga, harapan, dan kemanusiaan yang tetap bertahan di tengah runtuhnya perdamaian.
Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Rholand Muary, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menilai Tanah Runtuh bukan sekadar tontonan, melainkan ruang refleksi mengenai dampak panjang konflik sosial terhadap kehidupan masyarakat.
“Film ini mengingatkan kita bahwa di balik setiap konflik selalu ada manusia yang kehilangan keluarga, rasa aman, dan harapan. Nilai kemanusiaan yang ditampilkan menjadi pesan penting bahwa perbedaan agama, suku, maupun budaya tidak boleh menghilangkan empati dan penghormatan terhadap sesama,” ujar Sekretaris Program Studi Sosiologi Agama FIS UIN Sumatera Utara tersebut.
Menurutnya, bagi masyarakat Sumatera Utara yang hidup dalam keberagaman suku, agama, dan budaya, film ini menjadi pengingat bahwa keberagaman merupakan kekuatan yang harus terus dirawat bersama. Toleransi tidak hanya berarti hidup berdampingan, tetapi juga membangun kepercayaan, saling menghargai, serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan semangat persaudaraan.
Melalui kegiatan ini, Satgaswil Sumut Densus 88 Anti Teror bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Aksha Brata Consultant berharap masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga persatuan, memperkuat nilai-nilai toleransi, serta menolak segala bentuk radikalisme dan terorisme demi terwujudnya kehidupan yang aman, damai, dan harmonis.












