LangkatTerkini.Com – Setiap 13 Agustus, Pangkalan Brandan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, mengingat salah satu episode penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada 13 Agustus 1947, kawasan industri minyak Pangkalan Brandan dibumihanguskan oleh pejuang Republik Indonesia untuk mencegah fasilitas strategis tersebut dikuasai pasukan Belanda.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah Agresi Militer Belanda I yang dimulai pada 21 Juli 1947. Pangkalan Brandan menjadi salah satu wilayah yang dianggap penting karena keberadaan industri minyak dan fasilitas pengilangan yang memiliki nilai strategis bagi perekonomian sekaligus logistik perang.
Berdasarkan buku Peristiwa Bumi Hangus Pangkalan Brandan karya Irini Dewi Wanti yang diterbitkan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh pada 2011, peristiwa bumi hangus Pangkalan Brandan berlangsung pada 13 Agustus 1947. Aksi serupa kembali terjadi menjelang Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.
Irini Dewi Wanti mencatat bahwa aksi bumi hangus dilakukan sebelum pasukan Belanda tiba di Pelabuhan Pangkalan Susu. Langkah tersebut dimaksudkan agar Belanda tidak dapat mengambil alih kilang minyak Pangkalan Brandan seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Strategi Menghadang Penguasaan Sumber Minyak

Jauh sebelum peristiwa bumi hangus, kawasan Langkat telah menjadi bagian penting dalam sejarah perminyakan Indonesia. Sumur minyak pertama di Indonesia ditemukan di Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat.
Menurut buku tersebut, pencarian minyak di kawasan itu dilakukan Aeliko Janszoon Zijlker. Setelah memperoleh konsesi dari Sultan Langkat, Sultan Musa, pada 8 Agustus 1883, Zijlker melakukan sejumlah pengeboran.
Pengeboran di Telaga Said kemudian menghasilkan minyak dalam jumlah yang signifikan. Pada 15 Juni 1885, setelah pengeboran mencapai kedalaman 121 meter, muncul semburan gas, minyak mentah, dan material lainnya dari dalam bumi. Sumur tersebut kemudian dikenal sebagai Telaga Tunggal.
Keberadaan sumber minyak membuat Pangkalan Brandan berkembang menjadi salah satu kawasan penting dalam sejarah industri perminyakan Indonesia. Kilang minyak di Pangkalan Brandan kemudian menjadi bagian dari perkembangan industri minyak yang dikelola pada masa kolonial.
Ancaman Agresi Belanda

Ketika Indonesia mempertahankan kemerdekaan, fasilitas minyak di Pangkalan Brandan kembali memiliki arti strategis. Belanda berupaya menguasai sejumlah wilayah dan sumber ekonomi penting di Sumatera Timur.
Dalam catatan Irini Dewi Wanti, informasi intelijen Republik menyebut Pangkalan Brandan akan menjadi sasaran serangan Belanda pada 13 Agustus 1947. Sebelumnya, konsentrasi pasukan Belanda di Tanjung Pura semakin meningkat dan pesawat tempur juga dilaporkan kerap terlihat di atas wilayah Pangkalan Brandan.
Pasukan Republik kemudian memperkuat pertahanan di jalur Tanjung Pura–Pangkalan Brandan sekaligus menyiapkan jalur pengungsian menuju Kuala Simpang dan Langsa.
Sejumlah jembatan yang menghubungkan wilayah Gebang, Tanjung Pura dan Pangkalan Brandan, termasuk Jembatan Pelawi dan Sicurai, dihancurkan sebagai bagian dari strategi menghadapi gerak maju pasukan Belanda.
Pertempuran di Gebang juga menjadi bagian dari rangkaian peristiwa tersebut. Pada 11 Agustus 1947, pertempuran di wilayah Gebang semakin memuncak hingga akhirnya pasukan Republik meninggalkan kawasan tersebut dan menarik pertahanan lebih jauh.
Kilang Minyak Dibakar


Dalam situasi yang semakin terdesak, strategi bumi hangus dipilih untuk mencegah fasilitas minyak jatuh ke tangan Belanda.
Pada 13 Agustus 1947, kilang-kilang minyak di Pangkalan Brandan dibakar oleh pasukan Republik. Api berkobar ketika serangan Belanda berlangsung. Kobaran api dan asap dari kilang minyak disebut membubung hingga mencapai sekitar 5.000 kaki.
Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi mempertahankan aset penting agar tidak dapat dimanfaatkan oleh pihak yang sedang berupaya menguasai wilayah Republik.
Namun, aksi bumi hangus bukanlah peristiwa pertama yang menyebabkan kehancuran kilang Pangkalan Brandan. Dalam buku tersebut disebutkan, Belanda sebelumnya juga membakar kilang pada 9 Maret 1942 sebelum Jepang menyerbu Hindia Belanda.
Kilang kemudian diperbaiki dan kembali beroperasi pada masa pendudukan Jepang. Setelah Jepang kalah, fasilitas minyak kembali mengalami kerusakan akibat serangan udara Sekutu pada 4 Januari 1945.
Sejarah yang Perlu Dirawat
Peristiwa bumi hangus Pangkalan Brandan tidak hanya berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan, tetapi juga perjalanan panjang industri minyak Indonesia.
Irini Dewi Wanti mencatat bahwa sejumlah peninggalan sejarah di Pangkalan Brandan dan sekitarnya masih dapat ditemukan. Bekas kilang pengolahan minyak peninggalan masa kolonial, misalnya, disebut masih berdiri di kawasan Kompleks Pertamina Pangkalan Brandan.
Selain itu, kawasan Telaga Said juga menyimpan jejak sejarah perminyakan Indonesia. Keberadaan peninggalan tersebut dinilai penting untuk dirawat agar generasi mendatang dapat memahami hubungan antara sejarah perminyakan, perjuangan kemerdekaan, dan perkembangan ekonomi Indonesia.
Bagi masyarakat Langkat, peristiwa 13 Agustus 1947 menjadi pengingat bahwa Pangkalan Brandan memiliki posisi penting dalam sejarah nasional. Peristiwa bumi hangus tersebut merupakan bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan sekaligus upaya mencegah sumber daya strategis dikuasai kembali oleh penjajah.
Sumber: Peristiwa Bumi Hangus Pangkalan Brandan, Irini Dewi Wanti, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 2011, ISBN 978-979-9164-96-4.














