example bannerexample banner
BINJAI

Dosen dan Mahasiswa Binjai Bahas Kurikulum Berbasis Cinta, Dorong Solusi Nyata Atasi Krisis Karakter

×

Dosen dan Mahasiswa Binjai Bahas Kurikulum Berbasis Cinta, Dorong Solusi Nyata Atasi Krisis Karakter

Sebarkan artikel ini

LangkatTerkini.Com – Mahasiswa Semester VI Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Pagi STIT Al-Washliyah Kota Binjai sukses menyelenggarakan Seminar Pendidikan Nasional bertema “Kurikulum Berbasis Cinta: Solusi atau Hanya Sekadar Konsep dalam Mengatasi Krisis Karakter” sebagai ruang diskusi ilmiah untuk menjawab tantangan pendidikan di era modern.

example banner

Seminar Nasional tersebut digelar di Aula STIT Al Washliyah Binjai, Jl. Perintis Kemerdekaan No. 148, Kebun Lada, Kec. Binjai Utara, Kota Binjai, Sumatera Utara, Jumat (26/6/2026).

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah tokoh pendidikan dan akademisi, di antaranya Plt Ketua STIT Al-Washliyah Kota Binjai H. Irhamuddin Siregar, M.A, Anggota DPRD Binjai H. Ronggur Raja Doli Simorangkir, S.Pd., M.A, serta dua narasumber utama yakni Dr. Hadi Widodo, M.A selaku Dosen LLDIKTI Wilayah I Sumatera Utara DPK UMN Medan sekaligus Dosen STIT Al-Washliyah Kota Binjai dan Hj. Syamsiah Nasution, S.Ag., M.A selaku Pengawas Madrasah Kementerian Agama Kota Binjai sekaligus Dosen STIT Al-Washliyah Kota Binjai.

Kurikulum Berbasis Cinta
Plt Ketua STIT Al Washliyah Binjai H Irhamuddin MA saat memberikan kata sambutan

Dalam sambutannya, Plt Ketua STIT Al-Washliyah Kota Binjai, H. Irhamuddin Siregar, M.A, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa dan dosen pengampu mata kuliah Isu-Isu Aktual Pendidikan yang dinilai berhasil menghadirkan ruang akademik yang produktif dan relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini.

example banner

Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan gagasan yang penting untuk terus dikaji karena pendidikan tidak cukup hanya menyiapkan kecerdasan intelektual, tetapi juga harus membangun karakter dan kemanusiaan peserta didik.

“Semoga kegiatan seperti ini terus dilaksanakan secara rutin sebagai ruang penguatan budaya akademik dan pengembangan kapasitas mahasiswa,” ujarnya.

example banner
Kurikulum Berbasis Cinta Mengatasi Krisis Karakter
Anggota DPRD Binjai, H. Ronggur Raja Doli Simorangkir, S.Pd., M.A

Sementara itu, Anggota DPRD Binjai, H. Ronggur Raja Doli Simorangkir, S.Pd., M.A, menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi generasi muda saat ini.

Ia menyampaikan bahwa pendidikan karakter merupakan kebutuhan mendesak di tengah perubahan sosial yang cepat. Menurutnya, kegiatan akademik seperti seminar dapat menjadi langkah preventif agar mahasiswa lebih aktif dalam aktivitas positif dan terhindar dari berbagai bentuk penyimpangan sosial, termasuk penyalahgunaan narkoba.

example banner

Ketua panitia, Eris P. Kaban, yang juga mahasiswa Semester VI STIT Al-Washliyah Kota Binjai, menyampaikan bahwa seminar ini tidak sekadar menjadi agenda akademik, tetapi juga ruang refleksi mengenai masa depan pendidikan.

Menurutnya, mahasiswa harus hadir sebagai bagian dari lahirnya gagasan pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman serta memberi kontribusi nyata terhadap pembentukan karakter generasi muda.

Kurikulum Berbasis Cinta STIT Al Washliyah Binjai
Ketua Prodi PAI Abdul Rahim

Senada dengan itu, Kaprodi PAI STIT Al-Washliyah Kota Binjai yang juga Dosen Pengampu Mata Kuliah Itu-Isu Aktual Pendidikan, Abdul Rahim, M.Pd, menegaskan bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga proses memanusiakan manusia.

Ia menilai Kurikulum Berbasis Cinta menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan juga ditentukan oleh kemampuan melahirkan pribadi yang berakhlak, berempati, dan memiliki kepedulian sosial.

Kurikulum Berbasis Cinta di Binjai
Hj Syamsiah Nasution

Sebagai narasumber utama, Hj. Syamsiah Nasution, S.Ag., M.A memaparkan bahwa lahirnya Kurikulum Berbasis Cinta didorong oleh berbagai persoalan pendidikan, mulai dari krisis karakter dan kemanusiaan, lemahnya pendidikan nilai pada aspek afektif dan spiritual, hingga belum optimalnya pendidikan agama dalam membentuk karakter yang penuh kasih.

Menurutnya, KBC dibangun di atas tiga fondasi utama, yaitu agama sebagai etika cinta, humanisasi pendidikan, dan pendidikan sebagai proses internalisasi nilai.

Ia menegaskan bahwa agama menempatkan cinta sebagai fondasi moral universal yang harus diwujudkan dalam praktik kehidupan sehingga pendidikan mampu melahirkan peserta didik yang damai, inklusif, dan berkeadaban.

Kurikulum Berbasis Cinta Hadi Widodo
Dr Hadi Widodo MA saat memaparkan materi

Sementara itu, Dr. Hadi Widodo, M.A menjelaskan bahwa pendidikan karakter selama ini sering belum menghasilkan perubahan nyata karena terlalu dominan pada pendekatan kognitif dan kegiatan seremonial.

Menurutnya, karakter tidak cukup diajarkan sebagai definisi, tetapi harus dialami melalui sistem pendidikan yang menyatu dengan budaya sekolah dan kehidupan sehari-hari.

Ia memperkenalkan konsep Panca Cinta sebagai nilai utama dalam Kurikulum Berbasis Cinta, yaitu Cinta kepada Allah dan Rasul, Cinta Ilmu, Cinta Diri dan Sesama, Cinta Lingkungan, serta Cinta Bangsa.

Lebih lanjut, Dr. Hadi menegaskan bahwa implementasi KBC harus melibatkan seluruh ekosistem pendidikan, mulai dari rumah, sekolah, teman sebaya, media digital, hingga masyarakat. Karena itu, ia mendorong hadirnya program konkret seperti Kelas Empati, Sahabat Tanpa Bullying, Jumat Peduli, Literasi Digital Beradab, Proyek Cinta Lingkungan, dan Forum Orang Tua agar nilai karakter benar-benar tumbuh dalam kehidupan peserta didik.

Melalui seminar ini, STIT Al-Washliyah Kota Binjai menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membangun generasi yang berilmu, beradab, peduli, serta memiliki kecintaan terhadap agama, sesama, lingkungan, dan bangsa.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *